digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Indonesia menguasai kurang dari 1% produksi semikonduktor global, sementara nilai impor chip mencapai USD 5 miliar per tahun. Kesenjangan struktural ini terjadi meskipun Indonesia memiliki pasar domestic 280 juta konsumen, cadangan timah dan silika yang melimpah, serta posisi geografis strategis. Aktivitas semikonduktor di dalam negeri masih terkonsentrasi pada segmen OSAT, segmen dengan margin terendah dan tingkat alih teknologi paling minim, sedangkan aktivitas bernilai tambah tinggi seperti desain chip fabless dan fabrikasi wafer belum tersedia. Penelitian ini mengidentifikasi tiga tantangan struktural : (1) belum adanya kerangka prioritisasi kuantitatif, (2) iklim usaha yang kurang kondusif dibandingkan negara tetangga, dan (3) koordinasi antar pemangku kepentingan utama yang terfragmentasi. Pembentukan Danantara diharapkan mampu mengoordinasikan penempatan modal, mandat permintaan, serta keselarasan antarkementerian. Pengembangan roadmap semikonduktor nasional yang tepat guna membutuhkan jawaban atas 3 pertanyaan kunci penelitian mencakup: (i) segmen rantai nilai yang sebaiknya dimasuki Indonesia, (ii) kategori produk prioritas dalam jangka pendek, dan (iii) mekanisme kebijakan untuk mempercepat pengembangan ekosistem. Kerangka Analytical Hierarchy Process (AHP) dua tingkat dikembangkan dan diterapkan terhadap delapan pakar dari kalangan akademisi hingga industri swasta. Pada tingkat pertama, dilakukan penilaian terhadap kriteria rantai nilai yang mencakup intensitas modal, kesiapan modal manusia, ekosistem dan infrastruktur, aksesibilitas teknologi dan kekayaan intelektual, serta daya tarik finansial untuk diterapkan pada tiga segmen rantai nilai (desain fabless, OSAT, dan foundry). Pada tingkat kedua, dilakukan penilaian terhadap lima kriteria pada tataran produk yang meliputi keselarasan strategis, total addressable market, laju pertumbuhan pasar, kepastian offtaker, dan potensi ekspor. Pertimbangan para pakar diagregasi menggunakan rerata geometrik, divalidasi melalui Saaty's Consistency Ratio , serta diuji melalui analisis sensitivitas ±20 persen . Mengingat dukungan kebijakan merupakan prasyarat untuk merealisasikan inisiatif ini, dilakukan benchmarking kebijakan komparatif negara tetangga seperti Malaysia dan Vietnam. Hasil analisis menunjukkan bahwa Kesiapan Modal Manusia merupakan kriteria rantai nilai yang paling dominan dengan bobot 0,333, sedangkan Kepastian Offtaker menjadi kriteria pemilihan produk yang paling dominan dengan bobot 0,445. Analisis juga mengidentifikasi Desain Fabless sebagai segmen masuk yang optimal bagi Indonesia dengan skor terbobot 4,16 serta Smart Meter, Internet of Things, Wi-Fi 7, dan Smart Card sebagai empat produk prioritas jangka pendek (skor terbobot 3,30–4,17). Analisis sensitivitas mengonfirmasi bahwa Desain Fabless dan Smart Meter secara konsisten mempertahankan posisi teratas. Realisasi rantai nilai dan portofolio produk memerlukan dukungan kebijakan yang kuat. Delapan rekomendasi kebijakan disusun berdasarkan lima pilar (arsitektur insentif, pengembangan modal manusia, kesiapan infrastruktur dan Kawasan Ekonomi Khusus, aktivasi permintaan, serta koordinasi kelembagaan) untuk implementasi peta jalan secara bertahap pada periode 2026–2036.