Indonesia menguasai kurang dari 1% produksi semikonduktor global, sementara
nilai impor chip mencapai USD 5 miliar per tahun. Kesenjangan struktural ini
terjadi meskipun Indonesia memiliki pasar domestic 280 juta konsumen, cadangan
timah dan silika yang melimpah, serta posisi geografis strategis. Aktivitas
semikonduktor di dalam negeri masih terkonsentrasi pada segmen OSAT, segmen
dengan margin terendah dan tingkat alih teknologi paling minim, sedangkan
aktivitas bernilai tambah tinggi seperti desain chip fabless dan fabrikasi wafer
belum tersedia. Penelitian ini mengidentifikasi tiga tantangan struktural : (1) belum
adanya kerangka prioritisasi kuantitatif, (2) iklim usaha yang kurang kondusif
dibandingkan negara tetangga, dan (3) koordinasi antar pemangku kepentingan
utama yang terfragmentasi. Pembentukan Danantara diharapkan mampu
mengoordinasikan penempatan modal, mandat permintaan, serta keselarasan
antarkementerian. Pengembangan roadmap semikonduktor nasional yang tepat
guna membutuhkan jawaban atas 3 pertanyaan kunci penelitian mencakup: (i)
segmen rantai nilai yang sebaiknya dimasuki Indonesia, (ii) kategori produk
prioritas dalam jangka pendek, dan (iii) mekanisme kebijakan untuk mempercepat
pengembangan ekosistem.
Kerangka Analytical Hierarchy Process (AHP) dua tingkat dikembangkan dan
diterapkan terhadap delapan pakar dari kalangan akademisi hingga industri swasta.
Pada tingkat pertama, dilakukan penilaian terhadap kriteria rantai nilai yang
mencakup intensitas modal, kesiapan modal manusia, ekosistem dan infrastruktur,
aksesibilitas teknologi dan kekayaan intelektual, serta daya tarik finansial untuk
diterapkan pada tiga segmen rantai nilai (desain fabless, OSAT, dan foundry). Pada
tingkat kedua, dilakukan penilaian terhadap lima kriteria pada tataran produk yang
meliputi keselarasan strategis, total addressable market, laju pertumbuhan pasar,
kepastian offtaker, dan potensi ekspor. Pertimbangan para pakar diagregasi
menggunakan rerata geometrik, divalidasi melalui Saaty's Consistency Ratio , serta
diuji melalui analisis sensitivitas ±20 persen . Mengingat dukungan kebijakan
merupakan prasyarat untuk merealisasikan inisiatif ini, dilakukan benchmarking
kebijakan komparatif negara tetangga seperti Malaysia dan Vietnam.
Hasil analisis menunjukkan bahwa Kesiapan Modal Manusia merupakan kriteria
rantai nilai yang paling dominan dengan bobot 0,333, sedangkan Kepastian
Offtaker menjadi kriteria pemilihan produk yang paling dominan dengan bobot
0,445. Analisis juga mengidentifikasi Desain Fabless sebagai segmen masuk yang
optimal bagi Indonesia dengan skor terbobot 4,16 serta Smart Meter, Internet of
Things, Wi-Fi 7, dan Smart Card sebagai empat produk prioritas jangka pendek
(skor terbobot 3,30–4,17). Analisis sensitivitas mengonfirmasi bahwa Desain
Fabless dan Smart Meter secara konsisten mempertahankan posisi teratas.
Realisasi rantai nilai dan portofolio produk memerlukan dukungan kebijakan yang
kuat. Delapan rekomendasi kebijakan disusun berdasarkan lima pilar (arsitektur
insentif, pengembangan modal manusia, kesiapan infrastruktur dan Kawasan
Ekonomi Khusus, aktivasi permintaan, serta koordinasi kelembagaan) untuk
implementasi peta jalan secara bertahap pada periode 2026–2036.
Perpustakaan Digital ITB