Arus Lintas Indonesia (Arlindo) merupakan jalur utama pertukaran massa air dan
panas dari Samudra Pasifik menuju Samudra Hindia yang berperan dalam sistem
iklim regional dan global. Penelitian ini bertujuan merekonstruksi kondisi
paleoseanografi dan mengidentifikasi perubahan intensitas Arlindo selama Late
Holocene (~5–0 ka) di Perairan Sangatta, Selat Makassar, menggunakan inti
sedimen TR1926B. Analisis dilakukan melalui identifikasi kelimpahan
foraminifera planktonik, rekonstruksi Sea Surface Temperature (SST),
Thermocline Water Temperature (TWT), dan gradien temperatur (?T) berbasis
rasio Mg/Ca, serta analisis ukuran butir menggunakan sortable silt dan log(Zr/Rb).
Kelimpahan rata-rata Thermocline Dwellers (TD) sebesar 52,7% dan Mixed Layer
Dwellers (MLDw) sebesar 47,3% menunjukkan kecenderungan DOT dangkal,
dengan pendalaman pada interval 3,6–2,5 ka serta pendangkalan pada sekitar 4,4
ka dan 1,5–0,8 ka. Rekonstruksi Mg/Ca menghasilkan SST sebesar 27,50–27,72°C,
TWT sebesar 23,30–23,56°C, dan ?T sebesar 4,15–4,25°C. Variasi ?T yang searah
dengan perubahan kelimpahan TD dan MLDw memperkuat interpretasi perubahan
DOT. Nilai sortable silt sebesar 24,1–26,2 ?m dan log(Zr/Rb) sebesar 0,08–0,17
menunjukkan korelasi positif yang sangat kuat dengan nilai r = 0,956. Nilai kedua
proksi yang rendah pada sekitar 4,4 ka mengindikasikan pelemahan Arlindo,
peningkatannya pada interval 3,6–2,5 ka menunjukkan penguatan Arlindo,
sedangkan penurunannya pada 1,5–0,8 ka mengindikasikan pelemahan kembali.
Variasi tersebut berkaitan dengan perubahan insolasi yang memengaruhi sistem
monsun, posisi ITCZ, hidroklimat Kalimantan, struktur termoklin, dan energi aliran
Arlindo. Hasil multiproksi menunjukkan bahwa perubahan intensitas Arlindo
selama Late Holocene terekam secara konsisten melalui kelimpahan foraminifera,
struktur termal kolom air, dan penyortiran sedimen.
Perpustakaan Digital ITB