digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Estuari merupakan lingkungan pesisir yang dinamis dan rentan terhadap perubahan akibat interaksi proses hidrodinamika, suplai sedimen, serta aktivitas antropogenik. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi karakteristik fisis dan morfologi, menganalisis perubahan luas permukaan, serta mengevaluasi faktor dominan yang memengaruhi morfologi pada 20 estuari di perairan utara dan selatan Pulau Jawa. Analisis dilakukan menggunakan citra satelit multitemporal tahun 2011 dan 2025 yang diolah menggunakan dashboard MorphEst berbasis MATLAB untuk memperoleh parameter panjang, konvergensi, bentuk, dan perubahan luas estuari. Faktor dominan pembentuk morfologi dievaluasi berdasarkan perbandingan fluks sedimen akibat gelombang, aliran sungai, dan pasang surut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa MorphEst mencapai tingkat kelengkapan ekstraksi sebesar 100%, tetapi processing error ditemukan pada 3 estuari akibat dominasi perairan laut terbuka pada masking, sehingga diperlukan pra-pemrosesan dan pengembangan algoritma yang lebih adaptif untuk meningkatkan keandalan hasil analisis. Panjang estuari cenderung berkurang ke arah timur seiring dengan meningkatnya rentang pasang surut. Analisis konvergensi menunjukkan bahwa sebagian besar estuari tidak memiliki bentuk corong (funnel-shaped), dengan Estuari Sampean sebagai pengecualian yang menunjukkan hubungan konvergensi kuat dengan nilai R 2~0,8. Selama periode 2011–2025, pesisir utara Pulau Jawa mengalami akresi bersih sebesar 7,4778 km2, sedangkan pesisir selatan mengalami abrasi bersih sebesar 1,3307 km2. Perbedaan tersebut berkaitan dengan tingginya pasokan sedimen fluvial dan aktivitas antropogenik di pesisir utara, sedangkan pesisir selatan lebih dipengaruhi oleh energi gelombang Samudra Hindia yang kuat dan transport sedimen sepanjang pantai. Hasil klasifikasi menunjukkan bahwa 20 estuari terkonsentrasi pada kategori wave-dominated dan river-dominated, tanpa ditemukan sistem tide-dominated. Fluks sedimen akibat pasang surut pada seluruh lokasi berada di bawah 80 kg/s, menunjukkan kontribusi pasang surut yang relatif lebih rendah dibandingkan pengaruh gelombang dan aliran sungai.