digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (Environmental, Social, and Governance/ESG) merupakan salah satu aspek yang semakin penting beberapa tahun belakangan. Sekarang, selain fokus pada kinerja keuangan, penting bagaimana perusahaan mengelola dampak lingkungan dan sosial, yang menjadi aspek penting bagi investor, regulator, konsumen, dan banyak pihak lainnya. Khususnya, bagi industri minyak dan gas, penting mempertimbangkan ini, mengingat besar dampak operasional pada lingkungan, masyarakat setempat, keselamatan pekerja, dan tata kelola perusahaan. Sebagai subholding hulu terbesar dari PT Pertamina (Persero) yang bertanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan energi Indonesia, PT Pertamina Hulu Energi (PHE) diharapkan menggunakan praktik bisnis yang lebih sustainable. Oleh karena itu, identifikasi mengenai pengelolaan risiko ESG yang dilakukan dan aspek-aspek yang memerlukan peningkatan menjadi penting bagi pengembangan perusahaan. Tujuan penelitian adalah evaluasi implementasi pengelolaan risiko ESG di PT Pertamina Hulu Energi (PHE) berdasarkan metodologi MSCI ESG Ratings. Pertanyaan penelitian yang diajukan adalah: (1) Bagaimana risiko ESG dikelola dan diimplementasikan di PHE berdasarkan kerangka MSCI ESG Key Issues? dan (2) Aspek-aspek ESG apa yang harus diprioritaskan dalam peningkatan guna memperkuat kinerja ESG perusahaan? Penelitian ini berlandaskan atas Agency Theory dan Stakeholder Theory. Metode penelitian yang digunakan adalah metode study case. Data dikumpulkan melalui laporan keberlanjutan, laporan tahunan, informasi perusahaan, dan dokumen penilaian MSCI ESG sebagai sumber utama. Untuk kaya akan analisis, dilakukan survey dan wawancara semi-structured dengan peserta dari divisi Corporate Secretary (Corporate Communication and Sustainability), Health, Safety, Security and Environment (HSSE), Human Capital (HC), dan Supply Chain Management (SCM) di PT Pertamina Hulu Energi (PHE). Divisi-divisi ini dipilih berdasarkan kompetensi dan tanggung jawab mereka dalam kebijakan dan implementasi ESG di perusahaan. Selanjutnya, data dianalisis berdasarkan metodologi MSCI ESG Ratings untuk industri eksplorasi dan produksi minyak dan gas. Penilaian dilakukan berdasarkan tujuh isu utama ESG, yaitu Carbon Emissions, Biodiversity & Land Use, Toxic Emissions & Waste, Community Relations, Health & Safety, Corporate Governance, dan Corporate Behavior, dengan mempertimbangkan level risiko dan efektivitasnya. Kemudian, dilakukan analisis kesenjangan (gap analysis) untuk mengidentifikasi aspek-aspek yang memerlukan perbaikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perusahaan telah merumuskan berbagai kebijakan, program, dan sistem manajemen ESG dalam aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola. Tahun 2025, perolehan MSCI ESG Rating PHE adalah BBB dengan Industry Adjusted Score 5,4 yang menunjukkan peningkatan dibanding tahun sebelumnya. Performa yang baik diperlihatkan oleh aspek Community Relations, Biodiversity & Land Use, serta Toxic Emissions & Waste. Perusahaan telah melakukan banyak program pengembangan masyarakat, keanekaragaman hayati, sistem pengelolaan lingkungan, dan program pengurangan limbah. Selain itu, perusahaan juga menunjukkan tata kelola yang baik dengan melakukan Code of Conduct, Anti-Bribery Management System, serta struktur dewan yang mendukung praktik tata kelola perusahaan yang baik. Namun, penelitian ini juga mengidentifikasi beberapa aspek yang memerlukan perbaikan. Pertama, target pengurangan emisi tahun 2025 masih menggunakan pendekatan Business as Usual (BaU) dan belum menetapkan target absolut berdasarkan tahun dasar (baseline) yang tetap. Kedua, intensitas emisi perusahaan mengalami peningkatan selama periode analisis. Dalam aspek sosial, peningkatan performa Health and Safety bisa dicapai dengan menetapkan target keselamatan kerja yang terukur dan memiliki batas waktu. Selain itu, PHE juga memerlukan peningkatan mekanisme monitoring dan reporting mengenai implementasi hak asasi manusia. Dalam aspek tata kelola, transparansi mengenai remunerasi eksekutif serta insentif yang dikaitkan dengan pencapaian ESG dapat memperbaiki hasil penilaian MSCI. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat lima prioritas utama yang direkomendasikan untuk peningkatan kinerja ESG PHE, yaitu: (1) menetapkan target absolut pengurangan emisi karbon berdasarkan tahun dasar yang tetap; (2) menetapkan target kesehatan dan keselamatan kerja yang terukur dan berbatas waktu; (3) memperluas target kinerja lingkungan yang berkaitan dengan pengurangan emisi dan pengelolaan limbah; (4) meningkatkan transparansi tata kelola melalui pengungkapan remunerasi dan insentif berbasis ESG; serta (5) memperluas cakupan sertifikasi ISO 45001 pada seluruh lokasi operasional