Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (Environmental, Social, and Governance/ESG)
merupakan salah satu aspek yang semakin penting beberapa tahun belakangan.
Sekarang, selain fokus pada kinerja keuangan, penting bagaimana perusahaan
mengelola dampak lingkungan dan sosial, yang menjadi aspek penting bagi investor,
regulator, konsumen, dan banyak pihak lainnya. Khususnya, bagi industri minyak
dan gas, penting mempertimbangkan ini, mengingat besar dampak operasional pada
lingkungan, masyarakat setempat, keselamatan pekerja, dan tata kelola perusahaan.
Sebagai subholding hulu terbesar dari PT Pertamina (Persero) yang bertanggung
jawab dalam memenuhi kebutuhan energi Indonesia, PT Pertamina Hulu Energi
(PHE) diharapkan menggunakan praktik bisnis yang lebih sustainable. Oleh karena
itu, identifikasi mengenai pengelolaan risiko ESG yang dilakukan dan aspek-aspek
yang memerlukan peningkatan menjadi penting bagi pengembangan perusahaan.
Tujuan penelitian adalah evaluasi implementasi pengelolaan risiko ESG di PT
Pertamina Hulu Energi (PHE) berdasarkan metodologi MSCI ESG Ratings.
Pertanyaan penelitian yang diajukan adalah: (1) Bagaimana risiko ESG dikelola dan
diimplementasikan di PHE berdasarkan kerangka MSCI ESG Key Issues? dan (2)
Aspek-aspek ESG apa yang harus diprioritaskan dalam peningkatan guna
memperkuat kinerja ESG perusahaan? Penelitian ini berlandaskan atas Agency
Theory dan Stakeholder Theory.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode study case. Data dikumpulkan
melalui laporan keberlanjutan, laporan tahunan, informasi perusahaan, dan dokumen
penilaian MSCI ESG sebagai sumber utama. Untuk kaya akan analisis, dilakukan
survey dan wawancara semi-structured dengan peserta dari divisi Corporate
Secretary (Corporate Communication and Sustainability), Health, Safety, Security
and Environment (HSSE), Human Capital (HC), dan Supply Chain Management
(SCM) di PT Pertamina Hulu Energi (PHE). Divisi-divisi ini dipilih berdasarkan
kompetensi dan tanggung jawab mereka dalam kebijakan dan implementasi ESG di
perusahaan. Selanjutnya, data dianalisis berdasarkan metodologi MSCI ESG Ratings
untuk industri eksplorasi dan produksi minyak dan gas. Penilaian dilakukan
berdasarkan tujuh isu utama ESG, yaitu Carbon Emissions, Biodiversity & Land Use,
Toxic Emissions & Waste, Community Relations, Health & Safety, Corporate
Governance, dan Corporate Behavior, dengan mempertimbangkan level risiko dan
efektivitasnya. Kemudian, dilakukan analisis kesenjangan (gap analysis) untuk
mengidentifikasi aspek-aspek yang memerlukan perbaikan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perusahaan telah merumuskan berbagai
kebijakan, program, dan sistem manajemen ESG dalam aspek lingkungan, sosial, dan
tata kelola. Tahun 2025, perolehan MSCI ESG Rating PHE adalah BBB dengan
Industry Adjusted Score 5,4 yang menunjukkan peningkatan dibanding tahun
sebelumnya. Performa yang baik diperlihatkan oleh aspek Community Relations,
Biodiversity & Land Use, serta Toxic Emissions & Waste. Perusahaan telah
melakukan banyak program pengembangan masyarakat, keanekaragaman hayati,
sistem pengelolaan lingkungan, dan program pengurangan limbah. Selain itu,
perusahaan juga menunjukkan tata kelola yang baik dengan melakukan Code of
Conduct, Anti-Bribery Management System, serta struktur dewan yang mendukung
praktik tata kelola perusahaan yang baik.
Namun, penelitian ini juga mengidentifikasi beberapa aspek yang memerlukan
perbaikan. Pertama, target pengurangan emisi tahun 2025 masih menggunakan
pendekatan Business as Usual (BaU) dan belum menetapkan target absolut
berdasarkan tahun dasar (baseline) yang tetap. Kedua, intensitas emisi perusahaan
mengalami peningkatan selama periode analisis. Dalam aspek sosial, peningkatan
performa Health and Safety bisa dicapai dengan menetapkan target keselamatan kerja
yang terukur dan memiliki batas waktu. Selain itu, PHE juga memerlukan
peningkatan mekanisme monitoring dan reporting mengenai implementasi hak asasi
manusia. Dalam aspek tata kelola, transparansi mengenai remunerasi eksekutif serta
insentif yang dikaitkan dengan pencapaian ESG dapat memperbaiki hasil penilaian
MSCI.
Berdasarkan hasil penelitian, terdapat lima prioritas utama yang direkomendasikan
untuk peningkatan kinerja ESG PHE, yaitu: (1) menetapkan target absolut
pengurangan emisi karbon berdasarkan tahun dasar yang tetap; (2) menetapkan target
kesehatan dan keselamatan kerja yang terukur dan berbatas waktu; (3) memperluas
target kinerja lingkungan yang berkaitan dengan pengurangan emisi dan pengelolaan
limbah; (4) meningkatkan transparansi tata kelola melalui pengungkapan remunerasi
dan insentif berbasis ESG; serta (5) memperluas cakupan sertifikasi ISO 45001 pada
seluruh lokasi operasional
Perpustakaan Digital ITB