BAB I Alfathri Adlin [37020016]
Terbatas Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB II Alfathri Adlin [37020016]
Terbatas Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB III Alfathri Adlin [37020016]
Terbatas Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB IV Alfathri Adlin [37020016]
Terbatas Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB V Alfathri Adlin [37020016]
Terbatas Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB VI Alfathri Adlin [37020016]
Terbatas Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB VII Alfathri Adlin [37020016]
Terbatas Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
Daftar Pustaka Alfathri Adlin [37020016]
Terbatas Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
Lampiran Alfathri Adlin [37020016]
Terbatas Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
Proses kreasi seniman sering dibahas dalam kaitannya dengan imajinasi dan
kreativitas. Sedangkan pembahasan imajinal dikaitkan dengan pengalaman mistik
dalam latihan pengosongan dan penyerahan diri kepada Tuhan (diistilahkan sebagai
fana dan riyadhah dalam kajian tashawwuf dan thariqah), serta belum pernah
dikaitkan dengan proses kreasi seniman. Imaji adalah rekaman pengalaman
indrawi, sedangkan imajinasi adalah proses kreasi dengan aktif dan konsentrasi
mengolah berbagai imaji tersebut secara kreatif untuk menghasilkan sesuatu yang
baru dan kreatif. Adapun imajinal adalah pengalaman kehadiran dunia imajinal
(mundus imaginalis atau alam mitsal) melalui perantaraan imaji sang mistikus
dalam keadaan pasif dan desentrasi untuk menerima apa pun yang hadir dalam
pengalaman mistik tersebut. Fokus penelitian disertasi ini adalah pengalaman
imajinal dalam proses kreasi 3 seniman yang merupakan salik Thariqah Qudusiyah.
Fenomenologi-hermeneutik mencermati pengalaman langsung atas fenomena yang
menampak di kesadaran (fenomenologi), dan penafsiran atas pengalaman tersebut
berdasarkan pada prapemahaman untuk memaknainya (hermeneutik). Namun,
asumsi dasar dari fenomenologi-hermeneutik ini adalah pengalaman dan kesadaran
di tataran fisikal serta pandangan dunia materialistik. Sedangkan imajinal dialami
sebagai pengalaman mistik dalam keadaan fana dan diterima dalam bentuk yang
dikenalinya sebagai medium, akan tetapi penafsirannya dilakukan melalui tahap
demi tahap kematangan mereka dalam bersuluk.
Dalam disertasi ini, perubahan sejarah dilihat sebagai patahan arkeologis (bukan
progres-dialektis), yaitu perubahan konsepsi mengenai tubuh dan jiwa, juga prinsip
yang mendasari penciptaan karya seni, serta pengalaman dalam proses kreasinya.
Disertasi ini dilengkapi wawancara terkait pengalaman langsung dari 3 seniman
yang merupakan salik Thariqah Qudusiyah ihwal proses kreasi seni mereka,
khususnya imajinal yang dialami ketika fana. Karena masih berstatus sebagai salik
dan belajar bersuluk, maka imajinal yang dialami pun belum setingkat dengan para
sufi arif billah, tapi dialami dalam tingkat tertentu pada proses kreasi seninya.
Perpustakaan Digital ITB