digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Erupsi freatik merupakan fenomena vulkanik yang memiliki prekursor yang cukup sulit untuk diprediksi, terutama pada gunungapi dengan sistem hidrotermal aktif seperti Gunung Tangkuban Parahu. Penelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi mekanisme pemicu erupsi freatik melalui pendekatan multidisiplin yang mengintegrasikan data pengindraan jauh, pengukuran geologi lapangan, dan analisis hidrometeorologi. Metodologi yang diterapkan meliputi ekstraksi kelurusan geologi menggunakan modified Segment Tracing Algorithm (mSTA) pada citra Sentinel-1, analisis deformasi permukaan berbasis Interferometric Synthetic Aperture Radar (InSAR), identifikasi mineral menggunakan Analytical Spectral Devices (ASD) dan Spectral Angle Mapper (SAM), serta uji laju infiltrasi air tanah di lapangan. Hasil analisis struktur geologi menunjukkan bahwa kawasan Kawah Ratu memiliki intensitas deformasi tektonik yang sangat tinggi, dibuktikan dengan ekstraksi total 1.164 kelurusan dari citra satelit orbit ascending dan descending. Pemetaan densitas kelurusan mengidentifikasi anomali tinggi di area kawah dengan nilai mencapai 9 count/km². Analisis statistik menunjukkan korelasi positif yang sangat kuat (R2 = 0,92) antara densitas kelurusan dan indeks kekasaran permukaan, yang mengonfirmasi bahwa morfologi kasar di area kawah merupakan manifestasi permukaan dari zona hancuran akibat struktur geologi. Uji infiltrasi lapangan memperlihatkan bahwa Kawah Ratu sebagai zona resapan utama dengan laju infiltrasi mencapai 170 meter/bulan. Nilai R2 = 0,72 antara laju infiltrasi dan densitas kelurusan menegaskan bahwa rekahan-rekahan batuan bertindak sebagai porositas primer yang memfasilitasi injeksi air meteorik secara cepat ke bawah permukaan. Manifestasi dari akumulasi tekanan tersebut terekam melalui teknologi InSAR, di mana terdeteksi adanya tren inflasi yang terpusat di zona dengan densitas kelurusan tinggi (Lf = 5–6 count/km²). Analisis curah hujan temporal periode 2017–2020 menyingkap bahwa kejadian erupsi freatik memiliki pola keterlambatan waktu (time lag) terhadap musim hujan. Peningkatan aktivitas vulkanik umumnya terjadi pada pertengahan tahun (Juni–Oktober).