Inkorporasi bahan alam seperti ekstrak teh hijau (Camellia sinensis) pada sediaan tabir surya
banyak dilakukan untuk memberikan perlindungan antioksidan dan fotoprotektif tambahan
terhadap paparan radiasi ultraviolet (UV). Namun, kepekaan katekin terhadap degradasi memicu
urgensi verifikasi kadar aktif dan efikasi klinisnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi
dan mengkuantifikasi kadar senyawa penanda katekin pada krim tabir surya komersial yang
memiliki klaim mengandung ekstrak teh hijau, serta mengevaluasi manfaat penambahan ekstrak
teh hijau terhadap parameter biofisik kulit wajah secara in vivo. Isolasi katekin dari matriks krim
emulsi dilakukan menggunakan metode Ultrasound-Assisted Extraction (UAE) yang dilanjutkan
dengan penetapan kadar menggunakan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) Densitometri pada panjang
gelombang maksimum 288 nm. Uji efektivitas klinis in vivo dirancang menggunakan desain
kelompok paralel terhadap 18 orang sukarelawan sehat yang terbagi menjadi tiga kelompok
perlakuan (Produk A, B, dan C) selama 14 hari pemakaian rutin. Parameter biofisik kulit diukur pada
tiga area wajah (dahi, pipi kanan, pipi kiri) pada empat titik waktu (????0, ????1, ????2, dan ????3) meliputi corneo
value (Corneometer® CM 825), tewa value (Tewameter® TM 300), serta erythema dan melanin
values (Mexameter® MX 18). Hasil analisis KLT Densitometri menghasilkan kurva kalibrasi linier
(???? = 25,8939???? + 6027,91; ???? = 0,977). Produk A terbukti mengandung katekin terkuantifikasi
sebesar 0,0074% b/b (0,074 mg/g sediaan), Produk B terdeteksi kualitatif namun berada di bawah
batas kuantifikasi (< LOQ), dan Produk C tidak terdeteksi (< LOD). Pada uji in vivo, Produk A
menjadi satu-satunya sediaan yang memberikan penurunan indeks eritema secara signifikan pada
hari ke-14 (????3, ???? < 0,05, Uji Wilcoxon Signed-Rank), menunjukkan efek penenang kulit (soothing
effect) yang sejalan dengan keberadaan katekin terkuantifikasi serta dukungan komponen soothing
agents dan emolien dalam formulasinya. Produk A dan B mampu mempertahankan stabilitas
hidrasi kulit sepanjang 14 hari (???? ? 0,05), sedangkan Produk C (kontrol) mengalami penurunan
hidrasi signifikan pada hari ke-14 (???? < 0,05), yang berkaitan dengan konsentrasi alkohol volatil
tinggi pada formulasinya. Seluruh sediaan mampu menjaga homeostasis barier kulit dengan nilai
TEWL yang stabil (< 15 g/h/m2
). Penelitian ini menyimpulkan bahwa kandungan senyawa aktif
katekin pada Produk A terbukti terkuantifikasi dalam kadar yang fungsional secara klinis
(0,074 mg/g).
Perpustakaan Digital ITB