digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Inkorporasi bahan alam seperti ekstrak teh hijau (Camellia sinensis) pada sediaan tabir surya banyak dilakukan untuk memberikan perlindungan antioksidan dan fotoprotektif tambahan terhadap paparan radiasi ultraviolet (UV). Namun, kepekaan katekin terhadap degradasi memicu urgensi verifikasi kadar aktif dan efikasi klinisnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengkuantifikasi kadar senyawa penanda katekin pada krim tabir surya komersial yang memiliki klaim mengandung ekstrak teh hijau, serta mengevaluasi manfaat penambahan ekstrak teh hijau terhadap parameter biofisik kulit wajah secara in vivo. Isolasi katekin dari matriks krim emulsi dilakukan menggunakan metode Ultrasound-Assisted Extraction (UAE) yang dilanjutkan dengan penetapan kadar menggunakan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) Densitometri pada panjang gelombang maksimum 288 nm. Uji efektivitas klinis in vivo dirancang menggunakan desain kelompok paralel terhadap 18 orang sukarelawan sehat yang terbagi menjadi tiga kelompok perlakuan (Produk A, B, dan C) selama 14 hari pemakaian rutin. Parameter biofisik kulit diukur pada tiga area wajah (dahi, pipi kanan, pipi kiri) pada empat titik waktu (????0, ????1, ????2, dan ????3) meliputi corneo value (Corneometer® CM 825), tewa value (Tewameter® TM 300), serta erythema dan melanin values (Mexameter® MX 18). Hasil analisis KLT Densitometri menghasilkan kurva kalibrasi linier (???? = 25,8939???? + 6027,91; ???? = 0,977). Produk A terbukti mengandung katekin terkuantifikasi sebesar 0,0074% b/b (0,074 mg/g sediaan), Produk B terdeteksi kualitatif namun berada di bawah batas kuantifikasi (< LOQ), dan Produk C tidak terdeteksi (< LOD). Pada uji in vivo, Produk A menjadi satu-satunya sediaan yang memberikan penurunan indeks eritema secara signifikan pada hari ke-14 (????3, ???? < 0,05, Uji Wilcoxon Signed-Rank), menunjukkan efek penenang kulit (soothing effect) yang sejalan dengan keberadaan katekin terkuantifikasi serta dukungan komponen soothing agents dan emolien dalam formulasinya. Produk A dan B mampu mempertahankan stabilitas hidrasi kulit sepanjang 14 hari (???? ? 0,05), sedangkan Produk C (kontrol) mengalami penurunan hidrasi signifikan pada hari ke-14 (???? < 0,05), yang berkaitan dengan konsentrasi alkohol volatil tinggi pada formulasinya. Seluruh sediaan mampu menjaga homeostasis barier kulit dengan nilai TEWL yang stabil (< 15 g/h/m2 ). Penelitian ini menyimpulkan bahwa kandungan senyawa aktif katekin pada Produk A terbukti terkuantifikasi dalam kadar yang fungsional secara klinis (0,074 mg/g).