Thunderstorm merupakan fenomena konvektif yang berisiko terhadap keselamatan dan
kelancaran operasi penerbangan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi karakteristik
thunderstorm di wilayah Bandara Soekarno Hatta dan sekitarnya serta di radius 0-90 km
menggunakan kombinasi parameter ambang reflektivitas radar, hidrometeor graupel, dan ZDR
di
setiap CAPPI 2-10 km. Identifikasi region thunderstorm dilakukan dengan
mengombinasikan kandidat pertama/utama berbasis reflektivitas maksimum (CRmax),
kandidat kedua berbasis graupel (Cgraupel), dan kandidat ketiga berbasis differential
reflectivity (C_ZDR). Penelitian ini menggunakan dua kejadian thunderstorm tanggal 15 dan
29 Juni 2024 yang mencakup 52 stem radar. Pemilihan kasus didasarkan pada laporan METAR
yang memuat sandi thunderstorm, sedangkan hasil identifikasi region thunderstorm final dari
radar diverifikasi menggunakan data petir produk CATS/BMKG.
Penelitian ini menghasilkan dua konfigurasi region thunderstorm final yang diverifikasi secara
terpisah, yaitu region thunderstorm final pertama CRmax–Cgraupel dan region thunderstorm
final kedua CRmax–Cgraupel pendukung
. Verifikasi dilakukan di semua level CAPPI
dan ring radar yang menghasilkan 1.404 unit analisis dan jumlah kejadian hit, miss, dan false
alarm, serta performa kedua region thunderstorm final dievaluasi dengan menghitung POD
(probability of detection), FAR (false alarm ratio), dan CSI (critical success index).
Hasil perbandingan antara region thunderstorm final pertama CRmax–Cgraupel dengan region
thunderstorm final kedua CRmax–Cgraupel pendukung
,
menghasilkan peningkatan
jumlah hit yang signifikan dan penurunan jumlah miss, meskipun jumlah false alarm
meningkat, performa POD dan CSI nya meningkat masing-masing 7,10 dan 5,94 poin
persentase, sedangkan FAR menurun 12,10 poin persentase. Deteksi hit pada level CAPPI
terbanyak di radius 30–60 km. Analisis kasus thunderstorm di radius 0–20 km menunjukkan
area graupel teridentifikasi di CAPPI 3, 5-10 km, dengan luas maksimum graupel sebesar 46
km² di CAPPI 5 km. Secara keseluruhan, region thunderstorm final pertama CRmax–Cgraupel
memberikan kemampuan deteksi lebih baik. Pendukung
tinggi lebih sesuai digunakan
sebagai indikator tambahan identifikasi proses mikrofisis konvektif daripada sebagai syarat
wajib pembentukan region thunderstorm final
Perpustakaan Digital ITB