digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Edy Miswanto
PUBLIC Open In Flipbook Rita Nurainni, S.I.Pus

Thunderstorm merupakan fenomena konvektif yang berisiko terhadap keselamatan dan kelancaran operasi penerbangan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi karakteristik thunderstorm di wilayah Bandara Soekarno Hatta dan sekitarnya serta di radius 0-90 km menggunakan kombinasi parameter ambang reflektivitas radar, hidrometeor graupel, dan ZDR di setiap CAPPI 2-10 km. Identifikasi region thunderstorm dilakukan dengan mengombinasikan kandidat pertama/utama berbasis reflektivitas maksimum (CRmax), kandidat kedua berbasis graupel (Cgraupel), dan kandidat ketiga berbasis differential reflectivity (C_ZDR). Penelitian ini menggunakan dua kejadian thunderstorm tanggal 15 dan 29 Juni 2024 yang mencakup 52 stem radar. Pemilihan kasus didasarkan pada laporan METAR yang memuat sandi thunderstorm, sedangkan hasil identifikasi region thunderstorm final dari radar diverifikasi menggunakan data petir produk CATS/BMKG. Penelitian ini menghasilkan dua konfigurasi region thunderstorm final yang diverifikasi secara terpisah, yaitu region thunderstorm final pertama CRmax–Cgraupel dan region thunderstorm final kedua CRmax–Cgraupel pendukung . Verifikasi dilakukan di semua level CAPPI dan ring radar yang menghasilkan 1.404 unit analisis dan jumlah kejadian hit, miss, dan false alarm, serta performa kedua region thunderstorm final dievaluasi dengan menghitung POD (probability of detection), FAR (false alarm ratio), dan CSI (critical success index). Hasil perbandingan antara region thunderstorm final pertama CRmax–Cgraupel dengan region thunderstorm final kedua CRmax–Cgraupel pendukung , menghasilkan peningkatan jumlah hit yang signifikan dan penurunan jumlah miss, meskipun jumlah false alarm meningkat, performa POD dan CSI nya meningkat masing-masing 7,10 dan 5,94 poin persentase, sedangkan FAR menurun 12,10 poin persentase. Deteksi hit pada level CAPPI terbanyak di radius 30–60 km. Analisis kasus thunderstorm di radius 0–20 km menunjukkan area graupel teridentifikasi di CAPPI 3, 5-10 km, dengan luas maksimum graupel sebesar 46 km² di CAPPI 5 km. Secara keseluruhan, region thunderstorm final pertama CRmax–Cgraupel memberikan kemampuan deteksi lebih baik. Pendukung tinggi lebih sesuai digunakan sebagai indikator tambahan identifikasi proses mikrofisis konvektif daripada sebagai syarat wajib pembentukan region thunderstorm final