digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak - Asyifa Shafira
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

Tetragonula laeviceps merupakan lebah tanpa sengat yang berperan sebagai polinator sekaligus penghasil madu dan propolis bernilai ekonomi tinggi. Walaupun telah banyak dikembangkan di daerah perkotaan, namun secara spesifik penelitian mengenai hubungan produktivitas koloni terhadap kebisingan antropogenik dan karakteristik vegetasi di sekitar sarang belum banyak tersedia. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan tingkat kebisingan, serta komposisi, keanekaragaman, dan potensi sumber daya vegetasi pakan/resin terhadap produksi madu dan propolis T. laeviceps di Kawasan ITB Kampus Jatinangor. Penelitian bersifat observasional deskriptif-eksploratif, dilaksanakan pada empat titik pengamatan dengan 16 koloni (4 koloni/lokasi). Variabel yang diamati meliputi tingkat kebisingan (Leq), keanekaragaman vegetasi (indeks Shannon-Wiener/H?), Floral Resource Potential Index (FRPI) dan Resin Resource Potential Index (RRPI) pada strata pohon, semak, dan herba. Produksi madu dipanen satu kali pada minggu ke-12, sedangkan propolis dipanen lima kali dengan interval dua minggu. Analisis data menggunakan uji Kruskal-Wallis, uji lanjut Wilcoxon-Bonferroni, uji Friedman, dan korelasi Spearman. Hasil menunjukkan tingkat kebisingan berbeda nyata antar titik (H = 19,793; p < 0,001), dengan nilai tertinggi di Titik A (68,656 dB), namun produksi madu (H = 4,76; p = 0,190) dan propolis (H = 6,00; p = 0,111) tidak berbeda nyata. Kebisingan menunjukkan kecenderungan hubungan negatif dengan produksi madu (rs = ?0,600) dan propolis (rs = ?0,200), meskipun tidak signifikan pada n = 4 titik. Keanekaragaman dan potensi sumber pakan vegetasi pada strata pohon dan herba (H? dan FRPI) menunjukkan kecenderungan hubungan positif dengan produksi madu (rs = 0,8–1,0), sementara produksi propolis menunjukkan kecenderungan hubungan positif dengan RRPI strata semak (rs = 0,4) dan herba (rs = 0,8). Pola ini mengindikasikan bahwa produksi madu cenderung dipengaruhi oleh ketersediaan nektar/polen pada strata pohon dan herba, sementara produksi propolis cenderung ditentukan oleh aksesibilitas resin dan kebutuhan pertahanan koloni. Penelitian selanjutnya disarankan untuk memperbanyak sampel dan melakukan pengamatan perilaku koloni secara langsung.