Penelitian ini menganalisis hubungan antara financial distress dan kualitas pengungkapan
corporate social responsibility (CSR) pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia periode 2023–2024. Financial distress diukur menggunakan Altman Z-score (1968),
sedangkan kualitas pengungkapan CSR dinilai melalui analisis konten dengan skor pembobotan
(0–3) terhadap pengungkapan lingkungan (GRI 300) dan sosial (GRI 400). Melalui purposive
sampling, terpilih 48 perusahaan manufaktur dari sektor Basic Materials, Industrials, dan
Consumer Non-Cyclicals, menghasilkan 96 observasi firm-year yang dianalisis menggunakan
regresi linear berganda dengan ukuran perusahaan, profitabilitas, dan leverage sebagai variabel
kontrol. Analisis menunjukkan meskipun sebagian besar perusahaan dalam kondisi keuangan
yang sehat, distress cukup bervariasi di antara sampel dengan kerentanan yang terkonsentrasi
pada sub-sektor Basic Materials. Namun, financial distress tidak berhubungan signifikan secara
statistik dengan kualitas pengungkapan CSR (B = -0,005; p = 0,105), dan temuan ini tetap
konsisten setelah data outlier dikeluarkan. Ukuran perusahaan merupakan satu-satunya variabel
yang berhubungan positif dan signifikan terhadap kualitas pengungkapan (B = 0,024; p = 0,000),
dengan model menjelaskan 29,6% variasi kualitas pengungkapan CSR (adjusted R² = 0,296).
Temuan ini mengindikasikan bahwa di bawah rezim pelaporan keberlanjutan yang wajib di
Indonesia, kualitas pengungkapan CSR lebih dipengaruhi oleh faktor struktural dan institusional
dibandingkan kondisi keuangan jangka pendek, yang menunjukkan bahwa legitimacy theory dan
slack resources theory kemungkinan saling meniadakan pengaruhnya.
Kata Kunci: Financial Distress, Kualitas Pengungkapan CSR, Altman Z-score, Standar GRI,
Perusahaan Manufaktur
Perpustakaan Digital ITB