digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Cover Fikra Asyrafi
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 1 Fikra Asyrafi
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 2 Fikra Asyrafi
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 3 Fikra Asyrafi
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 4 Fikra Asyrafi
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 5 Fikra Asyrafi
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

PUSTAKA Fikra Asyrafi
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

LAMPIRAN Fikra Asyrafi
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

Wilayah Gunung Tampomas di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat memiliki bentang alam vulkanik dan berpotensi untuk dijadikan kawasan geowisata. Namun, kawasan ini hanya dimanfaatkan untuk rekreasi visual semata, tanpa adanya integrasi dengan aspek edukasi kebumian yang mendalam. Kendala utama yang dihadapi adalah belum adanya deskripsi setiap situs geologi, interpretasi proses pembentukan situs geologi, dan penilaian kuantitatif terhadap situs geologi. Tidak adanya ketiga komponen tersebut menghambat transformasi wilayah Gunung Tampomas menjadi laboratorium alam yang dapat memberikan nilai edukasi dan konservasi. Maksud dari penelitian ini adalah untuk menginventarisasi data geologi untuk merekonstruksi pembentukan setiap situs geologi dan melakukan penilaian kuantitatif yang terukur untuk merancang rekomendasi pengembangan jalur wisata alam berbasis edukasi. Metode yang digunakan adalah dengan menggunakan pendekatan lapangan dan laboratorium. Pengambilan data primer dilakukan di lima situs geologi: Mata Air Cikandung, Curug Cipadayungan, Curug Ciputrawangi, Mata Air Cipanas Cileungsing, dan Mata Air Ciembutan. Analisis petrografi dilakukan untuk menentukan mineralogi dan nama batuan secara presisi. Pengambilan data struktur juga dilakukan untuk melengkapi interpretasi pembentukan situs geologi. Selanjutnya, penilaian kelayakan setiap situs geologi dilakukan dengan menggunakan metode penilaian kuantitatif yang mengevaluasi lima kategori: Nilai ilmiah dan intrinsik, nilai edukasi, nilai ekonomi, nilai konservasi, dan nilai tambah. Pendekatan ini dipilih karena kemampuannya untuk memberikan gambaran holistik yang menyeimbangkan aspek saintifik dan aspek manajemen pariwisata berkelanjutan. Hasil dan pembahasan menunjukkan keragaman vulkanik yang kompleks pada pembentukan Gunung Tampomas. Mata Air Cikandung diinterpretasikan sebagai mata air kontak di endapan Aliran Piroklastik Tampomas 1 dengan litologi bongkahan-bongkahan dasit yang masif dan akuifer dikontrol oleh porositas sekunder. Curug Cipadayungan tersusun atas batuan tuf kristal yang mengalami proses pengelasan dan membentuk dinding air terjun yang resisten akibat suhu pengendapan yang tinggi disertasi kemunculan kekar akibat gaya tektonik lokal. Curug Ciputrawangi memperlihatkan lava andesit dengan fitur kekar berlembar yang terbentuk akibat pelepasan beban tekanan batuan dan adanya muncul shear fracture. Mata Air Cipanas Cileungsing merupakan manifestasi panas bumi yang bertipe lateral outflow yang muncul pada Satuan Jatuhan Piroklastik yang berada di atas satuan aliran lava dengan jejak oksidasi besi yang kuat. Mata Air Ciembutan muncul dari lapisan tuf gelas yang berfungsi sebagai filter alami sehingga menghasilkan air yang memiliki rona turquoise. Berdasarkan penilaian kuantitatif geowisata, Curug Ciputrawangi menempati peringkat kelayakan tertinggi dengan skor akhir 58,3, didukung oleh nilai ilmiah yang baik, infrastruktur yang memadai, dan adanya produk lokal (kerupuk opak). Mata Air Cipanas Cileungsing menyusul dengan skor 55,8 berkat nilai tambah budaya dan ekonomi yang tinggi. Mata Air Cikandung memperoleh skor 53,3 berkat nilai tambah budaya, aksesibilitas mudah, dan infrastruktur yang memadai. Curug Cipadayungan mendapatkan skor 38,3 karena belum adanya perlindungan hukum dan memiliki nilai tambah yang kurang baik. Meskipun begitu, Curug Cipadayungan memiliki nilai ilmiah dan intrinsik yang tergolong tinggi karena memiliki memiliki keunggulan di keragaman geologi dan tidak terdapat kerusakan pada situs. Mata Air Ciembutan tercatat memiliki skor terendah, yaitu 27,5 yang disebabkan oleh minimnya aksesibilitas dan fasilitas penunjang meskipun memiliki potensi ilmiah yang unik. Letak kebaruan penelitian ini terdapat proses integrasi data mikropetrografi, evaluasi pariwisata numerik yang belum pernah dilakukan sebelumnya di kawasan ini, dan penyusunan peta rekomendasi geotrek yang membentang dari barat, utara, hingga timur Gunung Tampomas.