digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Sekolah berasrama sebagai salah satu model pendidikan berbasis full day learning, menghadapi tantangan yang berbeda dengan sekolah umum yang hanya menerapkan pembelajaran setengah hari. Faktor kenyamanan lingkungan maupun kondisi psikologi seringkali menjadi isu yang dihadapi siswi sekolah asrama. Kenyamanan ini dapat memengaruhi proses persepsi terhadap ruang dan menggambarkan pengalaman belajar serta rasa betah untuk tinggal sehari-hari di lingkungan asrama. Sebagai sebuah sekolah full-day asrama yang memfasilitasi kegiatan pembelajaran serta kehidupan sehari-hari, terdapat beberapa faktor yang dapat memengaruhi kegiatan dan pengalaman siswi dalam mempersepsikan lingkungan asrama sekaligus meningkatkan kenyamanan dan kebetahan siswi. Penelitian ini bermaksud untuk mengidentifikasi kebetahan siswi asrama serta memetakan faktor yang berpengaruh terhadap persepsi kebetahan siswi. Pengumpulan data menggunakan metode gabungan (mixed methods) melalui kualitatif observasi, kuantitatif kuesioner dan kualitatif wawancara. Pengambilan sampel kuantitatif dilakukan dengan teknik purposive-incidental sampling yang melibatkan 202 responden siswi. Data dianalisis menggunakan Exploratory Factor Analysis (EFA) untuk mereduksi dimensi, dilanjutkan dengan pengujian Partial Least Square - Structural Equation Modeling (PLS-SEM) untuk menguji signifikansi hubungan antar variabel. Hasil penelitian menunjukkan tingkat kebetahan siswi secara keseluruhan berada pada kategori netral menuju betah. Analisis EFA mengekstraksi 11 kelompok faktor, di mana uji PLS-SEM mengonfirmasi 6 faktor yang berpengaruh secara signifikan terhadap kebetahan, yaitu: Kenyamanan Emosional dan Adaptasi Sosial Lingkungan, Kenyaman Termal dan Pencahayaan Ruang Kelas, Kenyamanan Privasi dan Proteksi Ruang Personal, Dukungan Lingkungan Akademik dan Penilaian Sosial Asrama, Kenyamanan dan Penataan Ruang Asrama. Kontribusi penelitian ini terhadap ruang lingkup desain menegaskan bahwa elemen desain spasial seperti tata letak yang fungsional, penyediaan batas privasi visual yang sesuai dengan nilai Islam, serta optimalisasi kenyamanan termal dan sirkulasi, berperan krusial dalam menstabilkan lingkungan dan psikologis siswi. Hasil ini diharapkan menjadi acuan bagi pengembangan fasilitas pendidikan berasrama.