digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

QRIS telah menjadi metode pembayaran utama untuk transaksi sehari-hari di Indonesia, dengan sekitar 60 juta pengguna dan 43 juta merchant pada akhir 2025. Karena sebagian besar merchant tersebut adalah usaha mikro dan kecil, QRIS kini mencakup transaksi yang dulu hampir selalu dibayar tunai. Penelitian terdahulu secara konsisten melaporkan bahwa konsumen membelanjakan lebih banyak ketika membayar secara nontunai, dan menjelaskannya melalui berkurangnya pain of paying. Namun penelitian tersebut umumnya eksperimental dan dilakukan ketika uang tunai masih menjadi pilihan nyata. Penelitian itu membuktikan adanya perbedaan tanpa menjelaskan bagaimana prosesnya dialami, dan karena berfokus pada metode pembayaran, faktor lain di luar metode tersebut tidak ikut diperhitungkan. Penelitian ini mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi pembelian impulsif pada pengguna QRIS Generasi Z, serta memisahkan faktor yang berasal dari instrumen pembayaran dan yang tidak. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, melalui wawancara semi terstruktur dengan delapan informan yang dipilih secara purposif. Transkrip dianalisis melalui dua siklus koding, menghasilkan dua puluh empat open code dan tujuh pattern code. Temuan divalidasi melalui triangulasi teori dan member checking, dengan seluruh delapan informan mengkonfirmasi kerangka yang dihasilkan. Empat faktor ditemukan berasal dari QRIS, yaitu berkurangnya pain of paying, hilangnya bentuk fisik uang sebagai acuan pengeluaran, proses pembelian tanpa hambatan, dan micro-spend trap. Tiga faktor ditemukan bekerja terlepas dari instrumen tersebut, yaitu conditional pain of paying, disposisi pembelian yang telah terbentuk sebelumnya, dan ketiadaan regulasi diri. Temuan menunjukkan bahwa QRIS bukan satu-satunya penyebab pembelian impulsif, tetapi juga bukan tanpa peran. Kata kunci: QRIS, pembelian impulsif, Generasi Z, pain of paying, transparansi pembayaran, regulasi diri, penelitian kualitatif