QRIS telah menjadi metode pembayaran utama untuk transaksi sehari-hari di Indonesia,
dengan sekitar 60 juta pengguna dan 43 juta merchant pada akhir 2025. Karena sebagian besar
merchant tersebut adalah usaha mikro dan kecil, QRIS kini mencakup transaksi yang dulu
hampir selalu dibayar tunai. Penelitian terdahulu secara konsisten melaporkan bahwa
konsumen membelanjakan lebih banyak ketika membayar secara nontunai, dan
menjelaskannya melalui berkurangnya pain of paying. Namun penelitian tersebut umumnya
eksperimental dan dilakukan ketika uang tunai masih menjadi pilihan nyata. Penelitian itu
membuktikan adanya perbedaan tanpa menjelaskan bagaimana prosesnya dialami, dan karena
berfokus pada metode pembayaran, faktor lain di luar metode tersebut tidak ikut
diperhitungkan.
Penelitian ini mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi pembelian impulsif pada
pengguna QRIS Generasi Z, serta memisahkan faktor yang berasal dari instrumen pembayaran
dan yang tidak. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, melalui wawancara
semi terstruktur dengan delapan informan yang dipilih secara purposif. Transkrip dianalisis
melalui dua siklus koding, menghasilkan dua puluh empat open code dan tujuh pattern code.
Temuan divalidasi melalui triangulasi teori dan member checking, dengan seluruh delapan
informan mengkonfirmasi kerangka yang dihasilkan. Empat faktor ditemukan berasal dari
QRIS, yaitu berkurangnya pain of paying, hilangnya bentuk fisik uang sebagai acuan
pengeluaran, proses pembelian tanpa hambatan, dan micro-spend trap. Tiga faktor ditemukan
bekerja terlepas dari instrumen tersebut, yaitu conditional pain of paying, disposisi pembelian
yang telah terbentuk sebelumnya, dan ketiadaan regulasi diri. Temuan menunjukkan bahwa
QRIS bukan satu-satunya penyebab pembelian impulsif, tetapi juga bukan tanpa peran.
Kata kunci: QRIS, pembelian impulsif, Generasi Z, pain of paying, transparansi pembayaran,
regulasi diri, penelitian kualitatif
Perpustakaan Digital ITB