digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Fenomena squeezing merupakan permasalahan geoteknik yang umum terjadi pada penggalian terowongan di massa batuan berkualitas rendah dan kedalaman yang relatif besar. Kondisi ini ditandai oleh deformasi berlebih yang dapat menyebabkan ketidakstabilan massa batuan maupun sistem penyangga. Penelitian ini bertujuan mengembangkan metode penilaian potensi squeezing berdasarkan karakteristik massa batuan serta respons struktural sistem penyangga. Analisis pertama dilakukan menggunakan 249 data hasil pemodelan numerik yang dikembangkan dari 49 kasus terowongan aktual serta 250 data yang diperoleh dari berbagai publikasi ilmiah. Model numerik dikalibrasi hingga menghasilkan deformasi yang sesuai dengan kondisi lapangan, kemudian dilakukan variasi parameter massa batuan dan tekanan penyangga untuk mengevaluasi hubungan antara rasio kekuatan massa batuan terhadap tegangan in-situ (?cm/po) dan rasio tekanan internal penyangga terhadap tegangan in-situ (pi/po). Analisis kedua dilakukan menggunakan 86 data hasil pemodelan yang berasal dari 14 kasus terowongan untuk mengevaluasi respons struktural sistem penyangga yang direpresentasikan oleh bending moment (Macting) dan axial force (N). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terowongan berpotensi mengalami squeezing pada kondisi ????????????????0?0.4 sehingga untuk mencegah squeezing pada rentang tersebut diperlukan nilai ????????????0?0.07(????????????????0)?0.38. Selain itu, batas empiris antara zona squeezing dan non-squeezing berdasarkan respons penyangga diperoleh melalui persamaan ????=0.46(????????????)0.466, dimana kondisi squeezing terjadi ketika kombinasi nilai N dan My/Macting berada di atas batas tersebut. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa potensi squeezing dapat dinilai baik pada tahap desain maupun selama konstruksi, sehingga mendukung pengambilan keputusan yang lebih efektif dalam perencanaan dan monitoring terowongan.