digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Batas wilayah merupakan unsur informasi geospasial dasar yang berperan sebagai data rujukan nasional dalam mendukung perencanaan wilayah, pengelolaan sumber daya, serta integrasi data geospasial lintas sektor. Dalam konteks tata kelola data nasional, kualitas dan konsistensi data batas wilayah menjadi aspek krusial karena inkonsistensi spasial dapat berdampak pada perbedaan luas wilayah, ketidaksinkronan data sektoral, serta permasalahan administratif. Pengelolaan batas wilayah yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan dan tingkat administrasi menuntut mekanisme penyimpanan data yang mampu menjaga konsistensi geometri dan relasi spasial secara berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja model data topologi dan model data spaghetti dalam pengelolaan batas wilayah administrasi, dengan fokus pada efisiensi alur kerja dan dukungannya terhadap tata kelola data yang berorientasi dalam pemeliharaan kualitas data. Penelitian dilakukan melalui implementasi model data topologi pada basis data spasial PostgreSQL/PostGIS menggunakan tipe data TopoGeometry. Evaluasi dilakukan melalui beberapa skenario pengujian yang mencakup evaluasi kinerja operasional model data, pengaruh nilai toleransi terhadap kualitas geometri, kebutuhan kapasitas penyimpanan, serta implementasi versioning data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model data topologi hierarki memiliki kinerja yang lebih unggul pada sebagian besar operasi pengelolaan batas wilayah, khususnya pada proses pemutakhiran batas bersama yang melibatkan berbagai tingkat administrasi. Pemanfaatan kueri relasional berbasis topologi juga terbukti efektif dalam mendukung integrasi data garis batas, termasuk automasi segmentasi batas, pengisian atribut wilayah berbatasan, dan klasifikasi segmen batas. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa pemilihan model data merupakan bagian penting dari mekanisme tata kelola data batas wilayah. Model data topologi direkomendasikan sebagai model utama dalam pengelolaan batas wilayah nasional karena kemampuannya dalam menjaga konsistensi geometri dan relasi hierarkis secara terstruktur, meningkatkan efisiensi alur kerja pemutakhiran, serta mendukung integrasi data lintas tingkat administrasi secara berkelanjutan.