Radiasi matahari merupakan parameter penting dalam perencanaan dan
pengembangan energi surya, namun ketersediaan data hasil pengukuran langsung
masih terbatas sehingga pemodelan berbasis sistem informasi geografis (SIG)
menjadi salah satu alternatif yang banyak digunakan. ArcGIS menyediakan Solar
Radiation Toolset yang mengadopsi algoritma Solar Analyst untuk mengestimasi
radiasi matahari berdasarkan data topografi dan parameter atmosfer. Namun,
penggunaan nilai bawaan (default) untuk parameter transmisivitas (T) dan proporsi
difus (D) pada toolset ini cenderung menghasilkan estimasi yang kurang akurat,
khususnya di wilayah tropis dengan dinamika atmosfer yang tinggi.
Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kinerja tool Feature Solar Radiation dalam
mengestimasi radiasi matahari di wilayah tropis melalui kalibrasi parameter T dan
D. Simulasi dilakukan dengan memvariasikan T dan D pada rentang 0,2 – 0,7,
menghasilkan 36 kombinasi yang diuji terhadap data observasi radiasi horizontal
global (GHI) selama empat hari pengamatan di rooftop Gedung PAU, Institut
Teknologi Bandung. Kombinasi optimal ditentukan melalui penyaringan bertingkat
berdasarkan nilai absolute percentage error (APE) dan kesesuaian arah fisis
terhadap klasifikasi kondisi langit, yang diperoleh dari indeks kejernihan berbasis
kurva referensi very clear sky dan maximum overcast, dikonfirmasi dengan visual
citra langit.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kalibrasi parameter D dan T menurunkan rata
rata APE dari 24,5% (nilai bawaan) menjadi 2,8%, atau penurunan galat rata-rata
sekitar 88,6%. Kombinasi D = 0,2 – 0,3 dan T = 0,6 diidentifikasi paling sesuai
untuk kondisi clear sky, D = 0,3 – 0,4 dan T = 0,4 – 0,5 untuk kondisi intermediate,
serta D = 0,4 – 0,6 dan T = 0,2 – 0,3 untuk kondisi overcast. Penelitian ini juga
mengidentifikasi keterbatasan Solar Radiation Toolset dalam merepresentasikan
kondisi atmosfer ekstrem yang bersifat sesaat.
Perpustakaan Digital ITB