Usaha pemenuhan hak-hak anak dalam ruang kota mendorong terbentuknya berbagai program Kota Layak Anak di Indonesia, salah satunya adalah Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) pada empat Kota Administrasi di Provinsi DKI Jakarta. RPTRA dibentuk untuk memenuhi salah satu kebutuhan utama anak, yaitu bermain. Namun, penyediaan fasilitas yang ramah bagi anak ditemukan hanya tersedia pada komponen di dalam lokasi tujuan anak saja, sedangkan fasilitas perjalanan masih dibiarkan berbahaya bagi anak. Keluaran penelitian ini selain dapat digunakan untuk mengoptimalkan kinerja RPTRA sendiri, juga dapat dijadikan rekomendasi bagi program KLA selanjutnya, yang masih sangat kurang memperhatikan intervensi dalam komponen fisik.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kinerja RPTRA DKI Jakarta. Penilaian kinerja RPTRA tersebut terbagi menjadi komponen di dalam taman bermain (RPTRA) dan komponen aksesibilitas anak dari rumah menuju RPTRA. Untuk memenuhi tujuan penelitian, langkah awal adalah perumusan kriteria dan indikator lingkungan ramah anak yang akan digunakan untuk menilai kondisi eksisting di setiap RPTRA. Indikator yang disusun menjadi dasar untuk melihat ketercapaian sarana dan prasarana eksisting terhadap kondisi ideal, sebagai pendekatan dari sisi sediaan. Selain itu, indikator juga digunakan untuk melihat persepsi orang tua sebagai perwakilan anak, terhadap setiap RPTRA sebagai pendekatan dari penilaian persepsi pengguna ruang.
Terdapat lima kriteria lingkungan ramah anak yang digunakan dalam penilaian, yaitu keamanan; keselamatan dan kesehatan; kenyamanan; kemudahan; dan petualangan dan pengalaman baru. Berdasarkan hasil survei dan analisis, ditemukan bahwa dari sisi sediaan, kinerja di dalam RPTRA, dinilai sudah „Cukup‟ dalam memenuhi kebutuhan bermain anak. Namun, sangat disayangkan kondisi fasilitas perjalanan di anak di semua RPTRA masih jauh dari kondisi ideal, terutama pada kriteria keselamatan dan kesehatan; kemudahan; dan petualangan dan pengalaman baru. Terdapat beberapa komponen yang telah baik terpenuhi secara sediaan, namun ternyata masih belum dapat membuat orang tua atau pendamping anak tenang dan yakin untuk melepas anaknya bermain sendiri di luar rumah. Hasil evaluasi yang keluar menjadi rekomendasi untuk setiap RPTRA, dapat digunakan untuk memastikan kebutuhan anak terpenuhi saat beraktivitas di sekitar kawasan tersebut.
Perpustakaan Digital ITB