digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Beyond 5G merupakan teknologi jaringan generasi selanjutnya yang akan menjadi penerus dari teknologi jaringan 5G. Sebagai teknologi penerus dari 5G, Beyond 5G dirancang dengan peningkatan kapabilitas atas 5G, yang ditujukan untuk mengakomodasi tantangan serta skenario penggunaan jaringan yang akan muncul, dimana skenario-skenario baru tersebut ditandai dengan kepadatan konektivitas yang lebih tinggi serta tingginya kecepatan jaringan yang dibutuhkan.Oleh karena itu, otomasi menjadi bagian yang penting dari Beyond 5G. Selain itu, Beyond 5G dirancang untuk dapat memperbaiki kekurangan-kekurangan dari 5G. Kekurangan tersebut diantaranya adalah tidak adanya pendekatan efektif untuk integrasi antara network slicing dengan teknologi 5G yang dibutuhkan untuk konektivitas E2E antara perangkat keras dan controller, tidak adanya bahasa yang domain-specific dalam menerjemahkan slice, dynamic slicing yang tidak mudah dilakukan pada jaringan 5G, batas provisioning layanan yang belum ditentukan, serta core network slicing yang kurang memberi manfaat karena tidak ada antarmuka yang terstandarisasi. Oleh karena itu, dibutuhkan paradigma SDN controller baru yang mampu mengatasi masalah-masalah di atas dan mampu digunakan pada skenario penggunaan Beyond 5G. Saat ini, ETSI (European Telecommunications Standards Institute), suatu organisasi Uni Eropa yang bergerak pada standar telekomunikasi, telah merancang TeraFlow SDN, yakni suatu SDN controller yang memanfaatkan paradigma cloud native untuk dapat menyelesaikan masalah-masalah yang berkaitan dengan SDN konvensional dan 5G. TeraFlow SDN terdiri atas container yang mengandung layanan mikro, dimana layanan mikro ini membentuk komponen-komponen dari TeraFlow SDN. TeraFlow SDN juga mendukung multiprotokol. TeraFlow SDN adalah salah satu kandidat SDN controller yang memiliki paradigma baru dan dapat dipakai untuk penggunaan Beyond 5G. Oleh karena itu, dilakukan pengujian terhadap TeraFlow SDN untuk menguji kelayakan TeraFlow SDN sebagai controller pada penggunaan Beyond 5G. Pengujian dilakukan dengan menggunakan skenario L3VPN, sesuai dengan RFC 8299. Terdapat 4 pengujian, yang meliputi subsistem monitoring, deployment, otomasi, dan sistem terintegrasi. Hasil dari pengujian tersebut dianalisis dengan menggunakan 8 subobjektif yang meliputi aspek seperti kehandalan, penggunaan sumber daya perangkat, integrasi, modularitas, ramah pengguna, dan otomatisasi. Pengetesan dilakukan dengan ii menggunakan dasar RFC 2544 dan RFC 8456, ditambah ekstrapolasi dari standar yang ditetapkan oleh peneliti dan disesuaikan dengan kondisi nyata saat pengujian. Dari pengujian, diketahui bahwa TeraFlow SDN memiliki kehandalan yang baik, dengan error rate konstan 0 persen selama 15 kali pengujian. Lalu, didapat angka latensi pada data plane sebesar 2,943 milisecond dan standar deviasi sebesar 0,3625. Pada latensi provisioning, latensi berada pada 4,5055 detik dan standar deviasi berada pada 0,288. Pada aspek pemulihan, rerata durasi pemulihan untuk failover dan pod adalah 33,867 detik dan 5,13 detik, dengan standar deviasi sebesar 0,352 dan 1,187. Pada aspek otomasi, didapat durasi POST sebesar 5,264 detik dan DELETE sebesar 5,068 detik. Pada aspek deployment, ditemukan bahwa deployment container dan TeraFlow berjalan dengan lancar. Pada aspek monitoring, ditemukan bahwa Grafana mudah di akses, mudah digunakan, dan melakukan update data secara rutin. Selama pengujian, TeraFlow SDN ditemukan memakai tiga protokol, yakni RESTCONF, NETCONF, dan gNMI. Akan tetapi, pada pengujian di atas, ditemukan beberapa masalah, seperti kegagalan restart pod monitoringservices, yang disebabkan oleh imagepullbackoff, dimana hal ini terjadi karena tidak adanya image di registry. Oleh karena itu, ditemukan bahwa TeraFlow SDN layak untuk dijadikan SDN controller dalam penggunaan Beyond 5G, akan tetapi ada beberapa hal yang harus diperbaiki dan diteliti lebih lanjut, seperti registry dan penggunaan RAN untuk pengetesan control plane dengan menggunakan base station.