digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Pertumbuhan trafik jarigan secara eksponensial menuntut infrastruktur jaringan untuk memiliki kecepatan yang semakin tinggi dan latensi yang semakin rendah. Namun, arsitektur networking stack pada sistem operasi Linux memiliki keterbatasan performa akibat tingginya overhead dari context switching di dalam linux kernel. Teknologi kernel bypass seperti DPDK hadir untuk memberikan throguhput tinggi, namun pendekatan ini mengorbankan fitur penting pada linux kernel (seperti firewall dan observabilitas) serta memonopoli 100% core CPU secara konstan dengan busy-polling. Sebagai solusi, teknologi Extended Berkley Packet Filter (eBPF) dan eXpress Data Path (XDP) memungkinkan pemrosesan paket menggunakan fast path pada level driver network interface card (NIC). Penelitian ini bertujuan untuk mendesain dan mengimplementasikan router inkernel fast path berbasis eBPF/XDP yang berperforma tinggi, beroperasi dengan utilisasi CPU yang hemat daya, dan diintegrasikan dengan platform eksperimen jaringan multi-node terautomasi penuh. Metode pengembangan membagi arsitektur ke dalam tiga subsistem fungsional: subsistem eksperimen permrosesan eBPF/XDP menggunakan library cillium/ebpf berbasis Go, subsistem orkestrasi testbed multi-node menggunakan playbook Ansible, serta subsistem dashboard interaktif berbasis React.js. Pengujian eksperimen dieksekusi menggunakan perangkat general-purpose server pada Testbed ITB dengan network interface card 25Gbps untuk mengukur secara komparatif kemampuan throughput, utilisasi CPU, dan fungsionalitas sistem XDP dibandingkan dengan linux kernel dan VPP. Hasil penelitian membuktikan bahwa implementasi subsistem eBPF/XDP berhasil dieksekusi dengan tingkat throughput yang memuaskan. Pada beban single traffic, XDP stabil pada angka puncak rata-rata sebesar 32,349 Mpps, yang berarti performanya 383% lebih pesat dibanding Linux Kernel (8,429 Mpps) dan sanggup menyaingi pemrosesan userspace VPP (33,182Mpps) dengan rasio performa 97%. XDP juga sanggup melakukan packet filtering melalui kapabilitas firewall dan routing lookup tanpa terjadinya bottleneck, ditunjang dengan utilisasi core CPU yang bersifat proporsional dan lebih dinamis dari VPP. Pada ranah orkestrasi, sistem automasi Ansible mengotomasi seluruh tahapan pengujian tanpa intervensi manual dan membukukan efisiensi durasi eksperimen hingga 76,54% (mereduksi siklus dari 324 detik secara manual menjadi hanya 81 detik). Melalui hasil tersebut, penelitian ini membuktikan bahwa arsitektur in-kernel fast path menggunakan eBPF dan XDP dapat menggantikan teknologi kernel bypass konvensional sebagai alternatif yang memiliki obervability dan granular control. Kemampuan sistem memproses puluhan juta paket per detik tanpa memonopoli core CPU secara konstan memberikan dampak penghematan daya dalam membangun program router atau firewall yang terintegrasi pada sistem cloud services berskala besar. Lebih jauh, keberhasilan integrasi orkestrasi testbed menghasilkan kerangka eksperimen jaringan yang terstandarisasi dan dapat direproduksi (reproducible), memberikan proses konfigurasi, proses eksperimen serta hasil yang terbebas daripotensi kesalahan konfigurasi manual (human error).