digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

COVER TOTO YULIANTON
EMBARGO  2029-07-21 

Indonesia memiliki cadangan bauksit yang melimpah, menempati peringkat keenam dunia dengan 2,9 miliar ton cadangan terbukti. Pemerintah merespons potensi tersebut melalui kebijakan hilirisasi mineral yang melarang ekspor bahan mentah dan mendorong pengolahan domestik menjadi alumina dan aluminium. Kebijakan ini diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah ekonomi, memperkuat daya saing industri, serta mendukung pembangunan berkelanjutan. Namun, efektivitas kebijakan masih diperdebatkan karena adanya inkonsisteni regulasi, keterbatasan kapasitas pemurnian, serta kerentanan terhadap fluktuasi harga global. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas kebijakan hilirisasi bauksit Indonesia dalam menciptakan nilai tambah dan ketahanan industri. Analisis dilakukan pada tiga dimensi utama: (1) konsistensi kebijakan dan implementasi regulasi antar kementerian, (2) pengukuran nilai tambah dan struktur biaya produksi aluminium domestik, serta (3) ketahanan proyek hilirisasi terhadap guncangan eksternal seperti volatilitas kurs rupiah dan harga aluminium di London Metal Exchange (LME). Selain itu, penelitian juga menelaah dampak sosial-ekonomi berupa penciptaan lapangan kerja dan efek pengganda pada sektor industri terkait. Metodologi yang digunakan adalah pendekatan campuran (mixed methods), dengan instrumen kuantitatif berupa Analisis Gap, Analisis Nilai Tambah Hayami, dan Analisis Sensitivitas, serta wawancara semi-terstruktur dengan pemangku kepentingan industri dan regulator. Data penelitian mencakup laporan keuangan dan operasional Smleter PT. Y periode 2020–2025, serta regulasi nasional terkait hilirisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan hilirisasi bauksit berhasil mendorong peningkatan nilai tambah melalui pengolahan domestik, namun masih terdapat kesenjangan antara kapasitas pengolahan hulu dan kesiapan industri hilir aluminium. Analisis struktur biaya menunjukkan bahwa industri aluminium nasional memiliki margin operasi yang masih positif dengan cash cost produksi sebesar USD 1.687/ton dibandingkan harga aluminium LME sebagai referensi pasar global. Selain itu, hasil simulasi sensitivitas terhadap perubahan harga LME dan nilai tukar menunjukkan bahwa industri masih mampu mempertahankan margin positif pada berbagai skenario guncangan eksternal, sehingga memiliki tingkat resiliensi finansial yang relatif baik. Kontribusi penelitian ini bersifat ganda: secara akademik memperkaya kajian tentang industrialisasi berbasis sumber daya dan efektivitas kebijakan; secara praktis memberikan rekomendasi berbasis bukti untuk memperkuat industri aluminium Indonesia dan memastikan manfaat ekonomi berkelanjutan dari hilirisasi mineral.