Sebuah penelitian terhadap data anomali Time-Lapse Microgravity (TLM) pada lapangan minyak yang telah diproduksi, seringkali menciptakan tantangan dalam pemantauan distribusi massa batuan pori akibat fluida di dalam reservoir. Melalui evaluasi statistik hasil interpolasi distribusi nilai anomali TLM, sebanyak 1334 titik data dalam cakupan area pengukuran 5 km × 1.7 km atau ±850 hektar yang diambil selama periode pengukuran bulan September 2004 – November 2006 oleh tim kelompok keahlian Geofisika Eksplorasi dan Terapan ITB, kemudian di interpolasi menggunakan metode Ordinary Kriging (OK) dan metode Sequential Gaussian Simulation (SGS) pada grid yang telah divariasikan dalam empat ukuran bentuk, yaitu: 500 meter, 200 meter, 100 meter, dan 50 meter. Proses kajian evaluasi dilakukan melalui tiga tahapan yang meliputi: analisis statistik peta, visualisasi hasil interpolasi, serta korelasi terhadap informasi data perolehan fluida dari sumur. Hasil dan diskusi dari kajian evaluasi statistik dirangkum, bahwa kedua metode dapat meng-hasilkan nilai statistik peta anomali TLM yang mirip, melalui peta estimasi dari OK dan nilai realisasi rerata dari 100 realisasi SGS, sedangkan pada tiga peta realisasi individu yang diambil secara acak, yaitu: ke-1, ke-50, ke-100, dan peta per-kuartil dari 100 realisasi SGS, menunjukkan kemampuan dapat mempertahankan variabilitas lokal dari data. Visualisasi dari peta estimasi OK dan realisasi nilai E-Type dari 100 realisasi SGS juga cukup mirip, sehingga untuk mengambil kesimpulan, peta realisasi kuartil 50% diambil. Selain itu, metode SGS memiliki keunggulan dalam analisis uncertainty dari letak anomali TLM serta dapat dikaji dalam peta interval kepercayaan untuk menambah keyakinan interpretasi peta per-kuartil 50% tersebut. Lebih lanjut, keberadaan anomali TLM yang dominan ditunjuk-kan pada tiga zona anomali, dan dapat divalidasi melalui informasi lokasi sumur dan volume perolehan fluida pada setiap kawasan zona anomali. Nilai dari anomali TLM pada zona pertama dan zona ketiga bernilai rendah di sekitar sumur produksi dan dekat dengan sumur injeksi yang gagal dalam proses menginjeksikan fluida ke reservoir akibat pengu-rangan massa batuan pori, namun pada wilayah zona kedua nilai anomali TLM berhasil kembali stabil. Hasil ini menunjukkan, bahwa metode SGS mampu merepresentasikan data anomali TLM asli dari lapangan.
Perpustakaan Digital ITB