Tsunami Palu 2018 yang dipicu oleh gempa bumi berkekuatan Mw 7,4 merupakan salah satu kejadian near-field tsunami dengan waktu tiba gelombang sekitar 3–4 menit. Karakteristik geomorfologi Teluk Palu yang sempit dan memanjang menyebabkan energi gelombang terfokus ke bagian dalam teluk sehingga meningkatkan elevasi muka air di kawasan pesisir. Kondisi tersebut mengakibatkan waktu evakuasi menjadi sangat terbatas, sehingga mitigasi struktural perlu dipertimbangkan sebagai upaya untuk mengurangi dampak tsunami. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas dua alternatif bangunan pengaman pantai, yaitu offshore breakwater dan revetment, dalam mereduksi elevasi muka air tsunami menggunakan pemodelan numerik Delft3D-FLOW. Simulasi dilakukan berdasarkan model baseline Skenario A3 yang dikembangkan oleh Kurniawan dkk. (2020), dengan struktur direpresentasikan menggunakan fitur thin dam (weir). Variasi yang dianalisis meliputi jarak dan elevasi offshore breakwater serta variasi elevasi revetment. Efektivitas masing-masing alternatif dievaluasi berdasarkan parameter Elevasi Muka Air (EMA) melalui analisis distribusi water level dan cross section. Hasil simulasi menunjukkan bahwa variasi J3H1 merupakan konfigurasi offshore breakwater terbaik, sedangkan variasi R1 memberikan performa terbaik pada revetment. Meskipun offshore breakwater menghasilkan reduksi EMA yang sedikit lebih besar, perbedaannya relatif kecil pada kawasan pesisir yang menjadi fokus perlindungan. Dengan mempertimbangkan efektivitas hidrodinamika, kemudahan konstruksi, kebutuhan material, dan efisiensi pelaksanaan, revetment dipilih sebagai alternatif terbaik. Alternatif tersebut selanjutnya dikembangkan ke dalam desain konseptual sebagai rekomendasi mitigasi struktural tsunami di kawasan pesisir Pantai Talise, Kota Palu.
Perpustakaan Digital ITB