digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Pre-Exposure Prophylaxis (PrEP) merupakan strategi pencegahan HIV yang efektif bagi populasi berisiko tinggi, terutama pria yang berhubungan seks dengan pria (LSL). Namun, penggunaan PrEP tidak selalu berlangsung secara konsisten karena pengguna dapat berpindah antara regimen harian (Daily-PrEP), event-driven (ED-PrEP), berhenti (Stop), serta kembali menggunakan (Reinisiasi). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pola transisi penggunaan PrEP dan faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan penggunaan PrEP pada LSL di Indonesia. Penelitian ini menggunakan desain kohort retrospektif menggunakan data primer dari program demonstrasi PrEP di Indonesia. Analisis dilakukan menggunakan model Markov multistate dan regresi logistik multinomial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan PrEP bersifat dinamis dengan peluang perpindahan antar regimen selama observasi. Hasil analisis model Markov multistate menunjukkan bahwa penggunaan PrEP pada LSL bersifat dinamis dengan transisi antarstatus selama periode observasi. Regimen harian memiliki probabilitas persistensi tertinggi (49%), sedangkan peserta yang berhenti menggunakan PrEP masih memiliki peluang untuk melakukan reinisiasi pada kunjungan berikutnya. Analisis regresi logistik multinomial menunjukkan bahwa status penggunaan PrEP sebelumnya merupakan prediktor terkuat terhadap penggunaan PrEP berikutnya. Pengguna event-driven memiliki kemungkinan lebih rendah beralih ke regimen harian (RRR=0,23; 95%CI: 0,18–0,28; p<0,001), tetapi lebih mungkin tetap menggunakan regimen event-driven dibandingkan berhenti (RRR=4,60; 95%CI: 3,60–5,80; p<0,001). Penggunaan regimen harian lebih sering ditemukan pada peserta berusia ?25 tahun, sedangkan peserta dengan ?2 pasangan pria cenderung lebih kecil kemungkinannya menggunakan regimen harian maupun event-driven. Sebaliknya, memiliki ?2 pasangan wanita, frekuensi hubungan seksual yang lebih tinggi, serta mengakses layanan di rumah sakit berhubungan dengan kemungkinan yang lebih besar untuk menggunakan regimen harian (p<0,05). Kesimpulannya, penggunaan PrEP pada LSL di Indonesia bersifat dinamis dengan regimen harian menunjukkan persistensi tertinggi. Status penggunaan sebelumnya merupakan prediktor utama penggunaan PrEP berikutnya, yaitu jumlah pasangan seksual, frekuensi seksual, dan jenis fasilitas kesehatan turut memengaruhi pola penggunaan PrEP. Temuan ini mendukung perlunya strategi layanan PrEP yang adaptif dan berpusat pada karakteristik pengguna untuk meningkatkan keberlanjutan penggunaan PrEP dan efektivitas pencegahan HIV di Indonesia.