Sebuah struktur eksisting dengan fungsi struktur berupa rumah sakit dibangun
berdasarkan SNI 1726:2002. Dalam kurun hampir 2 dekade setelah standar ini
ditetapkan, semakin banyak sumber gempa baru yang ditemukan dan berdampak
kepada perubahan pendekatan dalam mendesain struktur tahan gempa sehingga
diperkenalkan standar terbaru yaitu SNI 1726:2019. Standar ini lebih
mengedepankan keseragaman dalam tingkat risiko kegagalan struktur yang ketika
menghadapi gempa maksimum yang mungkin terjadi. Struktur yang dibangun
dengan peraturan lama perlu dilakukan suatu evaluasi dengan menggunakan standar
terbaru untuk memastikan bahwa struktur masih memenuhi persyaratan
keselamatan atau justru memerlukan rehabilitasi seismik. Oleh karena itu,
penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja dari struktur eksisting dengan
fungsi rumah sakit yang terletak di Jakarta berdasarkan SNI 9273:2025 yang
mengadopsi ASCE 41-17. Penelitian ini juga merancang strategi rehabilitasi
seismik yang tepat dengan menggunakan SNI 9273:2012 untuk meningkatkan
ketahanan gedung terhadap gempa.
Analisis awal adalah dengan melakukan verifikasi desain dengan menggunakan
metode prosedur statik linier dengan menggunakan beban gempa SNI 1726:2002.
Hasil analisis menunjukkan bahwa struktur eksisting yang didesain dengan Sistem
Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK) justru tidak memenuhi kaidah strong
column weak beam (SCWB) dan sebanyak 80 joint balok kolom mengalami
kegagalan gaya geser joint. Struktur ini kemudian dilakukan analisis lebih lanjut
dengan menggunakan metode prosedur dinamik nonlinier dengan beban gempa
dengan periode ulang 225 tahun (BSE-1E) dan periode ulang 975 tahun (BSE-2E).
Hasil analisis ini, walaupun secara simpangan antartingkat sudah memenuhi
persyaratan dimana batas maksimum yang diizinkan adalah 2%, akan tetapi
terdapat sendi plastis yang terbentuk mengalami level kinerja yang melebihi level
yang diizinkan. Level kinerja sendi plastis yang diizinkan pada struktur dengan
fungsi rumah sakit ketika dibebani beban gempa BSE-1E adalah Immediate
Occupancy sedangkan untuk beban gempa BSE-2E adalah Life Safety. Struktur
eksisting yang dibebani beban gempa BSE-1E masih terdapat elemen sendi plastis
yang berada pada level Damage Control, sedangkan struktur eksisting yang
dibebani beban gempa BSE-2E masih terdapat elemen sendi plastis yang berada
pada level Collapse Prevention. Sendi plastis tidak hanya terbentuk pada elemen
balok, namun juga terjadi pada elemen kolom. Sendi plastis yang terbentuk pada
elemen kolom terjadi tak hanya pada dasar kolom lantai 1, melainkan juga terjadi
pada ujung kolom atas lantai 1, dan kolom di lantai 2 dan 3. Hal ini
mengindikasikan terjadinya column sway mechanism yang seharusnya dihindari
dalam mekanisme kegagalan struktur.
Untuk mengatasi defisiensi struktur yang ditemukan, dilakukan strategi rehabilitasi
seismik menggunakan Fluid Viscous Damper (FVD). Metode ini dipilih karena
perangkat damper pada umumnya mampu berfungsi sebagai pendisipasi energi
tambahan pada struktur sehingga dapat mengurangi gaya dan deformasi yang
terjadi pada struktur ketika mengalami gempa.
Hasil analisis prosedur dinamik nonlinier menunjukkan bahwa penambahan FVD
pada struktur eksisting sangat efektif dalam mendisipasi energi dalam mengalami
beban gempa. Level kinerja sendi plastis baik pada struktur dengan beban gempa
BSE-1E maupun BSE-2E berada pada level kinerja yang diizinkan. Pembentukan
sendi plastis yang terjadi pada kolom hanya terjadi pada kolom lantai 1. FVD yang
dipasang pada struktur mampu mendisipasi energi sebanyak 68.89% pada beban
gempa BSE-1E dan 63.81% pada gempa BSE-2E. Hasil ini memastikan bahwa
struktur eksisting yang telah dipasang FVD telah memenuhi kriteria penerimaan
yang ditetapkan berdasarkan SNI 9273:2025 sehingga lebih aman dalam
menghadapi gempa yang akan datang.
Perpustakaan Digital ITB