Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi besar pada sektor rantai pasok dan logistik, sehingga perusahaan perlu mengembangkan rantai pasok yang efektif dan tangguh. Dalam hal ini, Perusahaan X, sebuah merek dan pemasok suku cadang motor aftermarket, mengalami masalah dengan rantai pasok masuknya yang ditandai dengan ketergantungan pada pemasok luar negeri, variasi kualitas, dan perubahan waktu pengiriman yang menyebabkan ketidakseimbangan stok. Kondisi tersebut berkontribusi pada kekurangan stok dan kelebihan stok, yang meningkatkan biaya operasional dan menurunkan standar layanan pelanggan.
Penelitian ini merumuskan tiga pertanyaan utama, yaitu: (1) bagaimana kinerja pemasok masuk di Perusahaan X dalam hal Perjanjian Tingkat Layanan (SLA), (2) desain kebijakan persediaan masuk terbaik yang dapat diterapkan untuk barang prioritas, dan (3) perbaikan proses terbaik yang dapat dilakukan untuk meminimalkan cacat dan risiko gangguan pasokan. Studi ini menggunakan data kuantitatif sekunder dari catatan operasional internal Perusahaan X pada tingkat pemasok dan barang selama periode Januari-September 2025, termasuk data tentang waktu tunggu, akurasi pengiriman, pergerakan persediaan, dan laporan inspeksi kualitas. Wawancara semi-terstruktur dengan Manajer Gudang digunakan untuk melengkapi data, membuat diagram tulang ikan, dan mendalami analisis penyebab masalah. Pengukuran SLA, pengelompokan barang menggunakan analisis ABC/Pareto dan desain kebijakan sistem persediaan Q/P, serta model Lean Six Sigma (DMAIC) untuk pemetaan cacat dan navigasi penyebab akar digunakan untuk melakukan analisis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja pemasok inbound berada pada kategori moderate performance, dengan perbedaan karakteristik antara pemasok dari sisi ketepatan waktu dan konsistensi kualitas. Rancangan kebijakan persediaan berbasis analisis ABC/Pareto dan sistem Q/P berpotensi menurunkan risiko stockout sekaligus menyeimbangkan biaya pemesanan dan penyimpanan. Pendekatan Lean Six Sigma mengungkap bahwa variasi kualitas terutama dipengaruhi oleh kelemahan pada prosedur inspeksi, kemampuan pemasok menjaga konsistensi spesifikasi, serta koordinasi informasi antara fungsi internal. Penelitian ini dibatasi pada satu studi kasus perusahaan dan periode data tertentu, serta belum menguji kinerja pasca-implementasi secara jangka panjang. Oleh karena itu, usulan perbaikan disajikan dalam bentuk skenario implementasi bertahap untuk penerapan SLA berbasis monitoring berkala, penyesuaian kebijakan persediaan inbound, dan proyek peningkatan kualitas yang dapat dijadikan dasar bagi implementasi nyata di tahap berikutnya.
Perpustakaan Digital ITB