digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Transformasi digital dalam pendidikan inklusif menempatkan kemandirian pengoperasian komputer sebagai sarana pemberdayaan utama. Namun, pelaksanaannya bagi siswa low vision di Sekolah Luar Biasa (SLB) terkendala oleh kesenjangan aksesibilitas perangkat keras. Penggunaan keyboard QWERTY standar yang memiliki kontras rendah, tipografi kecil, dan ketiadaan pemisahan visualtaktil memicu extraneous cognitive load, yang memperparah fenomena split attention antara instruksi auditori dan pencarian tombol, sehingga memboroskan kapasitas memori kerja. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi dampak modifikasi keyboard QWERTY terhadap beban kognitif dan performa mengetik. Berlandaskan Cognitive load Theory dan prinsip Gestalt, penelitian ini menerapkan tugas eksperimental within-subject dengan pendekatan studi kasus multipel yang dianalisis secara idiografik pada enam siswa low vision (terbagi dalam Grade 1 dan Grade 2. Tiga kondisi stimulus diuji: keyboard standar (K1), keyboard modifikasi visual eksisting (K2), dan keyboard Intervensi multimodal visual-taktil (K3). Hasil penelitian mengungkap bahwa efektivitas desain K3 bersifat kondisional dan sangat dipengaruhi oleh pengelompokkan derajat gangguan penglihatan serta tingkat kemahiran. Bagi siswa pemula dan pengguna low vision Grade 2, K3 secara terukur mereduksi beban mental ekstrem (skor NASA-TLX turun dari 93,67 menjadi 74,67). Secara objektif, intervensi ini meningkatkan akurasi dasar dan ii menekan Error rate secara signifikan (dari 90,54% menjadi 69,01%), meskipun Words Per Minute (WPM) masih dalam tahap lambat. Sebaliknya, pada pengguna mahir dengan low vision Grade 1, K3 memicu fenomena speed-accuracy trade-off. Elemen tambahan justru mendisrupsi memori spasial-motorik yang sudah terbentuk, menyebabkan penurunan kecepatan WPM (rata-rata turun 3–7 WPM), namun di sisi lain berhasil mempertahankan presisi ketikan. Penelitian ini menunjukkan bahwa efektivitas desain sangat dipengaruhi oleh ekosistem pembelajaran, tingkat gangguan penglihatan, dan kemahiran awal pengguna. K3 bukanlah solusi seragam untuk semua orang, melainkan intervensi spesifik yang berfungsi sebagai jembatan kognitif krusial bagi pemula dan pengguna Grade 2. Temuan ini merekomendasikan agar desain di masa depan tidak lagi bersifat kaku dan seragam, melainkan adaptif dan dapat disesuaikan dengan profil visual serta kemampuan masing-masing pengguna