Transformasi digital dalam pendidikan inklusif menempatkan kemandirian
pengoperasian komputer sebagai sarana pemberdayaan utama. Namun,
pelaksanaannya bagi siswa low vision di Sekolah Luar Biasa (SLB) terkendala oleh
kesenjangan aksesibilitas perangkat keras. Penggunaan keyboard QWERTY standar
yang memiliki kontras rendah, tipografi kecil, dan ketiadaan pemisahan visualtaktil memicu extraneous cognitive load, yang memperparah fenomena split
attention antara instruksi auditori dan pencarian tombol, sehingga memboroskan
kapasitas memori kerja. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi dampak modifikasi
keyboard QWERTY terhadap beban kognitif dan performa mengetik. Berlandaskan
Cognitive load Theory dan prinsip Gestalt, penelitian ini menerapkan tugas
eksperimental within-subject dengan pendekatan studi kasus multipel yang
dianalisis secara idiografik pada enam siswa low vision (terbagi dalam Grade 1 dan
Grade 2. Tiga kondisi stimulus diuji: keyboard standar (K1), keyboard modifikasi
visual eksisting (K2), dan keyboard Intervensi multimodal visual-taktil (K3).
Hasil penelitian mengungkap bahwa efektivitas desain K3 bersifat kondisional dan
sangat dipengaruhi oleh pengelompokkan derajat gangguan penglihatan serta
tingkat kemahiran. Bagi siswa pemula dan pengguna low vision Grade 2, K3 secara
terukur mereduksi beban mental ekstrem (skor NASA-TLX turun dari 93,67
menjadi 74,67). Secara objektif, intervensi ini meningkatkan akurasi dasar dan
ii
menekan Error rate secara signifikan (dari 90,54% menjadi 69,01%), meskipun
Words Per Minute (WPM) masih dalam tahap lambat. Sebaliknya, pada pengguna
mahir dengan low vision Grade 1, K3 memicu fenomena speed-accuracy trade-off.
Elemen tambahan justru mendisrupsi memori spasial-motorik yang sudah
terbentuk, menyebabkan penurunan kecepatan WPM (rata-rata turun 3–7 WPM),
namun di sisi lain berhasil mempertahankan presisi ketikan.
Penelitian ini menunjukkan bahwa efektivitas desain sangat dipengaruhi oleh
ekosistem pembelajaran, tingkat gangguan penglihatan, dan kemahiran awal
pengguna. K3 bukanlah solusi seragam untuk semua orang, melainkan intervensi
spesifik yang berfungsi sebagai jembatan kognitif krusial bagi pemula dan
pengguna Grade 2. Temuan ini merekomendasikan agar desain di masa depan tidak
lagi bersifat kaku dan seragam, melainkan adaptif dan dapat disesuaikan dengan
profil visual serta kemampuan masing-masing pengguna
Perpustakaan Digital ITB