digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Indonesia memiliki 635 unit anjungan lepas pantai yang tersebar di berbagai wilayahnya, dengan 7 anjungan diantaranya telah memasuki dan melampaui akhir masa produktifnya. Pelaksanaan decommissioning di Indonesia mengacu pada ketentuan pemerintah mengenai kegiatan pasca operasi serta ketentuan yang ditetapkan oleh SKK Migas. Di sisi lain, pelaksanaan decommissioning membutuhkan metode pembongkaran dan pengangkatan struktur yang aman, efektif, dan ekonomis. Pemilihan crane barge menjadi salah satu aspek penting dalam menentukan metode pengangkatan karena kapasitas angkatnya berpengaruh terhadap konfigurasi pengangkatan, durasi pekerjaan, dan biaya decommissioning. Oleh karena itu penelitian ini berfokus pada penentuan prosedur decommissioning yang optimal berdasarkan dua alternatif crane barge dengan kapasitas angkat yang berbeda yaitu 3000 MT dan 2000 MT. Pada tahap pre-decommissioning, kondisi dan integritas struktur perlu dievaluasi sebagai dasar dalam menentukan metode dan prosedur decommissioning yang sesuai. Evaluasi struktur pada kondisi in-service dilakukan melalui analisis in-place, seismic, dan fatigue dengan mengacu pada API RP 2A-WSD 22nd Edition. Selanjutnya, prosedur decommissioning topside disusun menggunakan strategi modular removal dengan mempertimbangkan kapasitas crane barge, durasi pekerjaan, dan biaya. Pembahasan difokuskan pada struktur topside, sedangkan evaluasi jacket dikaji secara terpisah pada Tugas Akhir Rahina Ascafya Nur Aulia (2026). Hasil evaluasi in-service menunjukkan bahwa struktur memenuhi kriteria pada analisis in-place dan seismic, sedangkan pada analisis fatigue terdapat beberapa joint yang belum memenuhi required fatigue life, dengan nilai fatigue life minimum. Hasil analisis prosedur decommissioning menunjukkan bahwa Alternatif 2 yaitu Group Lifting memiliki total biaya lebih kecil, yaitu $10,130,944.99 dengan durasi 41 hari. Berdasarkan hasil tersebut, Alternatif 1 dipilih sebagai prosedur decommissioning yang paling optimal.