Indonesia memiliki 635 unit anjungan lepas pantai yang tersebar di berbagai
wilayahnya, dengan 7 anjungan diantaranya telah memasuki dan melampaui akhir
masa produktifnya. Pelaksanaan decommissioning di Indonesia mengacu pada
ketentuan pemerintah mengenai kegiatan pasca operasi serta ketentuan yang ditetapkan
oleh SKK Migas. Di sisi lain, pelaksanaan decommissioning membutuhkan metode
pembongkaran dan pengangkatan struktur yang aman, efektif, dan ekonomis.
Pemilihan crane barge menjadi salah satu aspek penting dalam menentukan metode
pengangkatan karena kapasitas angkatnya berpengaruh terhadap konfigurasi
pengangkatan, durasi pekerjaan, dan biaya decommissioning. Oleh karena itu
penelitian ini berfokus pada penentuan prosedur decommissioning yang optimal
berdasarkan dua alternatif crane barge dengan kapasitas angkat yang berbeda yaitu
3000 MT dan 2000 MT.
Pada tahap pre-decommissioning, kondisi dan integritas struktur perlu dievaluasi
sebagai dasar dalam menentukan metode dan prosedur decommissioning yang sesuai.
Evaluasi struktur pada kondisi in-service dilakukan melalui analisis in-place, seismic,
dan fatigue dengan mengacu pada API RP 2A-WSD 22nd Edition. Selanjutnya,
prosedur decommissioning topside disusun menggunakan strategi modular removal
dengan mempertimbangkan kapasitas crane barge, durasi pekerjaan, dan biaya.
Pembahasan difokuskan pada struktur topside, sedangkan evaluasi jacket dikaji secara
terpisah pada Tugas Akhir Rahina Ascafya Nur Aulia (2026). Hasil evaluasi in-service
menunjukkan bahwa struktur memenuhi kriteria pada analisis in-place dan seismic,
sedangkan pada analisis fatigue terdapat beberapa joint yang belum memenuhi required
fatigue life, dengan nilai fatigue life minimum. Hasil analisis prosedur
decommissioning menunjukkan bahwa Alternatif 2 yaitu Group Lifting memiliki total
biaya lebih kecil, yaitu $10,130,944.99 dengan durasi 41 hari. Berdasarkan hasil
tersebut, Alternatif 1 dipilih sebagai prosedur decommissioning yang paling optimal.
Perpustakaan Digital ITB