ABSTRAK Sutan Syachputra
Terbatas Devi Septia Nurul
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Devi Septia Nurul
» Gedung UPT Perpustakaan
TUGAS AKHIR Sutan Syachputra
Terbatas Devi Septia Nurul
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Devi Septia Nurul
» Gedung UPT Perpustakaan
Cekungan Banda dan Perairan Wakatobi, Sulawesi Tenggara, merupakan kawasan di Indonesia Timur yang mencakup Cekungan Bonerate, Buton Timur, Tukang Besi, dan sebagian Alor. Keempat sub-cekungan tersebut masih tergolong belum tereksplorasi meskipun data geologi dan geofisika regional telah tersedia. Kondisi laut dalam pada kawasan ini, dengan kedalaman dasar laut mencapai lebih dari 4.000 meter, menyulitkan dan memperbesar biaya akuisisi data seismik maupun pemboran, sehingga parameter dasar cekungan seperti kedalaman basement dan ketebalan sedimen belum dapat dikarakterisasi dengan baik. Metode magnetik dipilih sebagai alternatif yang relatif efisien untuk mengestimasi kedua parameter tersebut secara regional menggunakan program inversi MagB_Inv, yang sebelumnya telah berhasil diterapkan di beberapa perairan Indonesia lain yang juga berlintang magnetik rendah.
Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi kedalaman basement magnetik dan ketebalan sedimen daerah penelitian, menganalisis pola sebarannya dikaitkan dengan konfigurasi sub-cekungan, serta mengevaluasi efektivitas MagB_Inv dalam mengolah data magnetik pada wilayah bermagnetik lintang rendah. Data yang digunakan meliputi data anomali magnetik total Magnetic Anomaly Map of East Asia (MAMEA), data batimetri, dan peta cekungan sedimen regional. Data anomali magnetik total diolah melalui tiga jalur paralel, yaitu tanpa filter (TMI), reduksi ke ekuator (RTE), dan reduksi ke kutub (RTP), yang masing-masing melalui analisis spektral untuk estimasi kedalaman awal, inversi menggunakan MagB_Inv dengan kombinasi parameter yang sama, dan perhitungan ketebalan sedimen dari selisih kedalaman basement terhadap data batimetri. Hasil ketiga data tersebut dibandingkan terhadap penampang seismik pembanding yang tersedia di kawasan berdekatan.
Model kedalaman basement dari data TMI dan RTE menghasilkan rentang -4 hingga -14 km dengan ketebalan sedimen sekitar 2-10 km, sedangkan data RTP menghasilkan rentang jauh lebih ekstrem, yaitu -2 km hingga lebih dari -26 km. Pola sebaran menunjukkan Cekungan Buton Timur secara konsisten memiliki ketebalan sedimen paling tipis dan Cekungan Alor paling tebal pada data TMI dan RTE, sejalan dengan kerangka geologi regional, namun pola ini terbalik pada data RTP. Ketika dibandingkan dengan penampang seismik pembanding, model dari ketiga data hanya menunjukkan kesesuaian kualitatif yang moderat pada tren kedalaman rata-rata, tanpa mampu merekonstruksi detail struktural seperti segmentasi sesar. Hasil ini menunjukkan bahwa MagB_Inv kurang efektif diterapkan pada daerah penelitian, meskipun perangkat lunak yang sama telah berhasil diterapkan pada kawasan lain di perairan Indonesia yang sama-sama berlintang magnetik rendah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa diperlukan penelitian lanjutan untuk mengidentifikasi secara spesifik penyebab keterbatasan tersebut, sehingga penerapan MagB_Inv di wilayah bermagnetik lintang rendah dengan kompleksitas tektonik tinggi dapat dioptimalkan pada masa mendatang.
Perpustakaan Digital ITB