Banjir merupakan kejadian berulang di kawasan Baleendah, Kabupaten Bandung, yang
berpotensi menimbulkan dampak fisik dan ekonomi besar akibat tingginya keterpaparan
bangunan pada dataran banjir Citarum Hulu. Tugas Akhir ini bertujuan menganalisis
rangkaian kondisi hidrometeorologi, respons hidrologi, karakteristik genangan,
keterpaparan bangunan, serta estimasi kerugian fisik langsung pada kejadian banjir 11
18 April 2026.
Analisis dilakukan menggunakan anomali outgoing longwave radiation untuk
mengidentifikasi aktivitas konveksi, curah hujan GPM IMERG berbobot luas pada DTA
Dayeuhkolot, serta debit dan tinggi muka air Stasiun Dayeuhkolot. Sebaran genangan
disimulasikan menggunakan HEC-RAS 2D, kemudian dikalibrasi dan dievaluasi
terhadap 259 titik survei lapangan sebelum di-overlay dengan poligon bangunan, fungsi
kedalaman–kerusakan, dan nilai penggantian yang didekati berdasarkan NJOP serta luas
tapak bangunan.
Hasil menunjukkan adanya anomali OLR negatif yang persisten dan berkaitan dengan
aktivitas MJO sebelum kejadian. Akumulasi curah hujan DTA Dayeuhkolot mencapai
219,35 mm pada 1–10 April 2026, 109,16 mm selama 11–18 April 2026, dan 27,02 mm
pada 19–25 April 2026. Kondisi ini diikuti peningkatan debit rata-rata dari 149,29 m³/s
menjadi 271,52 m³/s, dengan debit puncak 354,37 m³/s dan tinggi muka air 7,40 m pada
15 April 2026 pukul 22.30 WIB, yang telah melampaui ambang kritis 6,66 m. Simulasi
menghasilkan area basah seluas 15,77 km² dengan kedalaman rata-rata 1,26 m, tetapi
masih menunjukkan kecenderungan overestimate dengan bias +90,18 cm, MAE 100,03
cm, dan RMSE 127,05 cm. Berdasarkan kedalaman maksimum pada tapak bangunan,
teridentifikasi 28.596 bangunan terdampak atau 19,30% dari seluruh bangunan.
Perhitungan pada 28.165 bangunan dengan data NJOP valid menghasilkan estimasi
kerugian sebesar Rp463,99 miliar yang didominasi sektor residensial dan industri. Nilai
tersebut perlu dipahami sebagai estimasi konservatif, bukan biaya kerusakan aktual.
Perpustakaan Digital ITB