digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Kemiskinan di Nusa Tenggara Timur (NTT) masih menjadi permasalahan serius, dengan angka kemiskinan mencapai 20,90% pada tahun 2020, hampir dua kali lipat rata-rata nasional. Kondisi ini diperparah oleh keterbatasan akses terhadap sumber air akibat karakteristik iklim semi-arid wilayah tersebut. Penelitian ini bertujuan mengestimasi indeks kemiskinan relatif, menganalisis distribusi ketersediaan sumber air menggunakan data multisumber, serta mengidentifikasi wilayah prioritas intervensi. Estimasi kemiskinan dilakukan menggunakan Weighted Sum Model (WSM) dengan lima variabel prediktor (night-time light, karbon monoksida, kepadatan jalan, jarak jalan, dan jarak POI) pada resolusi grid 1,5×1,5 km, dengan bobot berdasarkan korelasi Pearson terhadap data BPS. Analisis ketersediaan air menggunakan NDWI, LSWI, dan presipitasi (CHIRPS) yang dibobotkan dengan AHP. Hasil validasi model kemiskinan menunjukkan R² sebesar 0,638 dan RMSE 26,25%. Indeks ketersediaan air berkisar antara 0,207–0,531, dengan Pulau Flores menunjukkan potensi air lebih tinggi dibandingkan Pulau Sumba. Analisis bivariat mengidentifikasi wilayah dengan kemiskinan tinggi dan potensi air rendah terkonsentrasi di bagian selatan Pulau Timor dan sebagian Sumba. Hubungan antara kemiskinan dan ketersediaan air bersifat heterogen secara spasial, mengindikasikan perlunya kebijakan yang mempertimbangkan karakteristik lokal masing-masing wilayah.