digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Novrizal Primayudha [37022008]
PUBLIC Open In Flipbook Noor Pujiati.,S.Sos

BAB I Novrizal Primayudha [37022008]
Terbatas  Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB II Novrizal Primayudha [37022008]
Terbatas  Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB III Novrizal Primayudha [37022008]
Terbatas  Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB IV Novrizal Primayudha [37022008]
Terbatas  Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB V Novrizal Primayudha [37022008]
Terbatas  Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB VI Novrizal Primayudha [37022008]
Terbatas  Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan

Daftar Pustaka Novrizal Primayudha [37022008]
Terbatas  Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan

Lampiran Novrizal Primayudha [37022008]
Terbatas  Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan

Masjid Jami Mentok, didirikan pada tahun 1880 di kota pertambangan timah Mentok, Bangka Belitung, merupakan artefak penting dalam kajian interaksi budaya Islam lokal dalam pengaruh eksternal pada masa kolonial. Penelitian ini bertujuan merumuskan estetika Islam Melayu dalam kritik pascakolonial melalui analisis bentuk dan makna desain bangunan Masjid Jami Mentok. Fokus kajian diarahkan pada prinsip eklektik yang lahir dari percampuran gaya Eropa, Cina, Arab, dan Jawa, serta pada semangat toleransi dan adaptasi budaya (tasamuh) sebagai dasar ekspresi estetika dan religius masyarakat Melayu Tanjung. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif-interpretatif dengan strategi etnohistoris dan kajian estetik-pemaknaan budaya. Data diperoleh melalui pembacaan arsip sejarah dan budaya, observasi visual-formasi bentuk, dan wawancara mendalam dengan pemangku budaya setempat. Pendekatan ini mengungkap dinamika pemaknaan ruang ibadah yang tidak hanya bersifat religius, tetapi juga politis dan identitas dalam sejarah budaya Melayu Tanjung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk dan makna desain Masjid Jami Mentok lahir dari proses negosiasi budaya masyarakat Melayu Tanjung terhadap kebijakan kolonial. Dialektika antara warisan material dan pemaknaan masa kini memperlihatkan strategi keberlanjutan budaya yang berakar pada memori kolektif. Temuan ini memberikan kontribusi teoretis bagi pengembangan konsep estetika Islam-Melayu dalam kerangka kritik pascakolonial, sekaligus menawarkan perspektif baru bagi pelestarian desain bangunan peribadatan yang berbasis pada nilai-nilai lokal dan praktik komunitas.