digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Asam hialuronat (HA) merupakan glikosaminoglikan yang banyak dimanfaatkan dalam bidang biomedis, farmasi, kosmetik, dan rekayasa jaringan karena bersifat hidrofilik, viskoelastis, dan biokompatibel. HA umumnya diperoleh dari jaringan hewan atau fermentasi mikroba. Pemanfaatannya yang luas meningkatkan kebutuhan terhadap biomaterial ini dan mendorong eksplorasi sumber alternatif, termasuk hasil samping perikanan. Pemanfaatan ikan masih berfokus pada daging, sedangkan bagian lain, seperti kepala dan mata, belum dimanfaatkan secara optimal. Humor vitreus ikan telah dilaporkan berpotensi sebagai sumber HA, tetapi pemanfaatan humor vitreus dan bagian luar lensa mata ikan tongkol (Euthynnus affinis) masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mengekstraksi dan mengarakterisasi fraksi yang mengandung komponen hialuronat dari kedua bagian tersebut serta mengevaluasi aktivitas awal penangkapan radikal ABTS•+ dan antibakteri fraksi humor vitreus. Ekstraksi dilakukan melalui hidrolisis enzimatik menggunakan papain, presipitasi dengan cetylpyridinium chloride (CPC), pemurnian melalui dialisis, dan pengeringan. Perolehan total fraksi kering dievaluasi dan karakterisasi dilakukan menggunakan analisis karbon, hidrogen, nitrogen, dan sulfur, HPLC UV–Vis, GPC, FTIR, ¹H NMR, dan SEM. Aktivitas penangkapan radikal ABTS•+ diuji pada konsentrasi 0,5; 1,0; 1,5; dan 2,0 mg/mL, sedangkan aktivitas antibakteri diuji menggunakan metode difusi cakram terhadap Pseudomonas aeruginosa dan Staphylococcus aureus. Data aktivitas dianalisis menggunakan one-way ANOVA dan uji lanjut Tukey pada taraf signifikansi p < 0,05. Perolehan total fraksi kering dari bagian luar lensa dan humor vitreus masingmasing sebesar 1,125 dan 0,348 g/L. Nilai tersebut merepresentasikan keseluruhan material hasil ekstraksi, bukan rendemen HA murni. Analisis karbon, hydrogen, nitrogen dan sulfur mendukung keberadaan material biopolimer organik sekaligus menunjukkan kemungkinan adanya komponen lain yang ikut terekstraksi. Puncak utama HPLC UV–Vis fraksi humor vitreus dan bagian luar lensa masing-masing terdeteksi pada waktu retensi 3,322 dan 3,033 menit, relatif dekat dengan HA komersial pada 2,888 menit. Hasil tersebut mendukung keberadaan komponen dengan perilaku kromatografi serupa dengan HA. Analisis GPC menghasilkan berat molekul rata-rata berbobot (Mw) sebesar 1,78 × 10? Da pada fraksi humor vitreus dan 7,34 × 10? Da pada fraksi bagian luar lensa, dengan PDI masing-masing 6,10 dan 8,05. Nilai tersebut menunjukkan distribusi ukuran molekul yang luas dan merepresentasikan seluruh komponen terlarut. FTIR menunjukkan gugus fungsi yang berkaitan dengan struktur polisakarida, sedangkan ¹H NMR memperlihatkan sinyal pada daerah proton gula dan N-asetil. SEM menunjukkan permukaan kering yang kasar dan beragregasi. CPC residual masih terdeteksi pada kedua fraksi, dengan kontribusi sinyal yang lebih dominan pada fraksi bagian luar lensa. Oleh karena itu, material hasil ekstraksi lebih tepat dinyatakan sebagai fraksi yang mengandung komponen hialuronat, bukan HA murni. Aktivitas penangkapan radikal ABTS•+ fraksi humor vitreus meningkat dari 5,58 ± 0,11% pada konsentrasi 0,5 mg/mL menjadi 8,56 ± 0,10% pada 2,0 mg/mL, dengan perbedaan nyata antar konsentrasi. Fraksi tersebut menghasilkan zona hambat sebesar 9,10 ± 0,61 mm terhadap P. aeruginosa dan 10,20 ± 0,53 mm terhadap S. aureus. Rerata zona hambat terhadap S. aureus lebih besar, tetapi tidak dilakukan uji statistik langsung antar kedua bakteri sehingga perbedaan sensitivitas belum dapat disimpulkan. Kadar CPC residual belum dikuantifikasi dan konsentrasi CPC pembanding pada uji antibakteri tidak disetarakan dengan CPC di dalam fraksi. Dengan demikian, aktivitas yang teramati merupakan aktivitas awal keseluruhan fraksi dan belum dapat diatribusikan khusus kepada HA. Penelitian ini menunjukkan bahwa mata ikan tongkol berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber fraksi yang mengandung komponen hialuronat dari hasil samping perikanan. Namun, perolehan fraksi bagian luar lensa yang lebih tinggi tidak menunjukkan bahwa jaringan tersebut merupakan sumber HA yang lebih baik karena spektrumnya masih menunjukkan kontribusi sinyal CPC yang dominan dan memerlukan pemurnian lebih lanjut.