BAB 1 - Nurpradesi Ambartiwi
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
bab 2 - Nurpradesi Ambartiwi
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 3 - Nurpradesi Ambartiwi
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 4 - Nurpradesi Ambartiwi
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 5 - Nurpradesi Ambartiwi
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
DAFTAR PUSTAKA - Nurpradesi Ambartiwi
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Residu High-Pressure Acid Leaching (HPAL) bijih nikel laterit memiliki
kandungan besi (Fe) yang tinggi (±30-50%) sehingga berpotensi dimanfaatkan
sebagai sumber sekunder Fe untuk menghasilkan produk bernilai tambah berbasis
Fe. Salah satu alternatif pemanfaatannya adalah sebagai bahan baku untuk
menghasilkan besi fosfat (FePO4), yang selanjutnya dapat digunakan sebagai
prekursor dalam sintesis material katoda litium besi fosfat (LiFePO4 atau LFP).
Penggunaan asam fosfat (H3PO4) sebagai reagen pelindi memberikan peluang untuk
mengintegrasikan proses ekstraksi Fe dengan penyediaan fosfat yang diperlukan
dalam pembentukan FePO4 sehingga berpotensi menyederhanakan rangkaian
proses produksi prekursor LFP.
Pada penelitian ini, Fe diekstraksi dari residu HPAL melalui proses pelindian
menggunakan larutan H3PO4. Perancangan percobaan dilakukan secara bertahap
menggunakan Plackett–Burman Design (PBD) untuk mengidentifikasi variabel
proses pelindian yang berpengaruh signifikan terhadap ekstraksi Fe, dilanjutkan
dengan Box–Behnken Design (BBD) dalam Response Surface Methodology (RSM)
untuk mengoptimasi kondisi pelindian dalam rentang variasi variabel yang dikaji.
Variabel yang dipelajari meliputi konsentrasi H3PO4, temperatur, waktu pelindian,
solid-to-liquid ratio (rasio S/L), dan kecepatan pengadukan. Kajian kinetika
pelindian dilakukan menggunakan Shrinking Core Model (SCM) pada beberapa
temperatur untuk menentukan pengendali laju dan energi aktivasi pelindian.
Larutan hasil pelindian dari kondisi terpilih selanjutnya digunakan untuk
menghasilkan FePO4 melalui proses presipitasi yang dioptimasi menggunakan
Central Composite Design (CCD) dengan memvariasikan pH, temperatur,
konsentrasi seed FePO4, dan laju penambahan air sebagai pengatur pH. Presipitat
yang diperoleh dikarakterisasi untuk menentukan komposisi kimia, struktur kristal,
dan morfologinya. FePO4 yang dihasilkan kemudian digunakan sebagai prekursor
ii
untuk sintesis LiFePO4/C melalui metode solid-state reaction menggunakan Li2CO3
sebagai sumber litium dan glukosa sebagai sumber karbon. Pencampuran dilakukan
menggunakan planetary ball mill, dilanjutkan dengan sintering pada temperatur
650 °C selama 6 jam. Material LiFePO4/C yang dihasilkan selanjutnya
dikarakterisasi dan diuji kinerja elektrokimianya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tahap screening menggunakan PBD,
temperatur merupakan satu-satunya faktor yang berpengaruh signifikan secara
statistik terhadap ekstraksi Fe. Kondisi pelindian terpilih diperoleh pada konsentrasi
H3PO4 3 M, temperatur 100 °C, waktu pelindian 90 menit, dan rasio S/L 10 g/100
mL yang menghasilkan ekstraksi Fe sebesar 99,52%. Analisis kinetika
menggunakan SCM mengindikasikan bahwa laju pelindian Fe terkendali oleh
reaksi kimia antarmuka pada rentang temperatur 60-80 °, sedangkan pada 100 °C
kecocokan tertinggi diperoleh dengan model difusi melalui film eksternal. Nilai
energi aktivasi sebesar 58,72 kJ/mol berada pada rentang dimana laju pelindian Fe
cenderung terkendali oleh reaksi kimia antarmuka.
Pada tahap presipitasi Fe, kondisi terpilih diperoleh pada temperatur 60 °C, pH 1,4,
konsentrasi seed FePO4 sebesar 0,5 g/L, dan laju penambahan air 3 mL/menit, yang
menghasilkan presipitasi Fe sebesar 98,26% dengan ko-presipitasi Al sebesar
0,51%. Presipitat yang diperoleh teridentifikasi sebagai FePO4·2H2O
(phosphosiderite) sebelum kalsinasi dan FePO4 setelah kalsinasi. Presipitat
mengandung Fe, Al dan P dengan kadar masing-masing 29,14%, 0,48%, dan
18,8%, serta rasio molar Fe:P = 0,85.
Sintesis LiFePO4/C menggunakan prekursor FePO4 hasil sintesis pada kondisi
terpilih tersebut menghasilkan material LiFePO4/C dengan fasa olivin LiFePO4
sebagai fasa utama dan nilai Rwp hasil Rietveld refinement sebesar 1,96%. Pada
pengujian elektrokimia, material LiFePO4/C menunjukkan kapasitas pengosongan
awal sebesar 84,9 mAh/g pada laju 0,1 C. Pada pengujian siklus dengan laju 1 C,
kapasitas spesifik sel berada pada kisaran 64–69 mAh/g hingga 100 siklus dengan
retensi kapasitas sebesar 93,78%. Meskipun kapasitas spesifik material hasil
sintesis masih signifikan lebih rendah dibandingkan kapasitas teoritis LiFePO4 (170
mAh/g), hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Fe dalam residu HPAL dapat
dimanfaatkan sebagai sumber sekunder untuk menghasilkan prekursor FePO4 dan
selanjutnya material katoda LiFePO4/C. Rute ini memberikan alternatif valorisasi
residu HPAL sekaligus berpotensi mendukung penyediaan bahan baku material
katoda baterai berbasis sumber daya sekunder. Masih diperlukan riset lanjutkan
untuk mendapatkan material FePO4 dari residu HPAL dengan kemurnian lebih
tinggi dan karakteristik fisik yang lebih sesuai untuk precursor baterai LFP.
Perpustakaan Digital ITB