digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Kanker serviks masih menjadi salah satu masalah kesehatan utama pada perempuan dan erat berkaitan dengan infeksi Human Papillomavirus risiko tinggi. Salah satu mekanisme penting dalam patogenesis kanker serviks adalah interaksi protein E6 dengan E6-associated protein (E6AP) yang menyebabkan degradasi p53, sehingga menghambat apoptosis dan mendukung kelangsungan hidup sel kanker. Di sisi lain, aktivasi jalur pensinyalan seperti AKT1, ER-?, dan EGFR turut berperan dalam proliferasi, survival, dan progresi kanker. Keterbatasan terapi konvensional, terutama terkait toksisitas, resistensi, dan rendahnya selektivitas, mendorong pencarian kandidat antikanker baru dari sumber bahan alam. Monascus purpureus merupakan kapang penghasil metabolit sekunder golongan azaphilone, termasuk pigmen kuning monascin dan ankaflavin, yang berpotensi dikembangkan sebagai kandidat senyawa aktif antikanker. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi potensi pigmen kuning hasil fermentasi padat Monascus purpureus sebagai kandidat senyawa aktif antikanker serviks melalui pendekatan terintegrasi yang mencakup studi in silico, optimasi fermentasi, isolasi dan karakterisasi senyawa, serta uji sitotoksik in vitro. Studi in silico dilakukan melalui molecular docking dan molecular dynamics terhadap target E6AP, AKT1, ER-?, dan EGFR. Produksi pigmen dioptimasi menggunakan Response Surface Methodology dengan rancangan Central Composite Design untuk meningkatkan produksi pigmen kuning sekaligus menurunkan kadar sitrinin. Pigmen hasil fermentasi kemudian diekstraksi, difraksinasi, dan dimurnikan menggunakan metode kromatografi, serta dikarakterisasi menggunakan KLT, HPLC-PDA, UV–Vis, FTIR, dan LC–MS. Aktivitas sitotoksik dievaluasi menggunakan metode MTT terhadap sel kanker serviks HeLa dan sel pembanding HEK293. Hasil studi in silico menunjukkan bahwa monascin dan ankaflavin memiliki afinitas pengikatan yang baik terhadap target molekuler kanker serviks. Pada E6AP, ankaflavin menunjukkan nilai binding free energy sebesar ?9,18 kcal/mol, sedangkan monascin sebesar ?8,81 kcal/mol. Kedua senyawa juga menunjukkan potensi interaksi dengan AKT1, ER-?, dan EGFR, yang mendukung kemungkinan mekanisme multitarget. Simulasi molecular dynamics selama 100 ns menunjukkan kestabilan kompleks ligan–protein, terutama pada interaksi dengan AKT1. Optimasi fermentasi menghasilkan kondisi optimum tanpa penambahan NaNO?, dengan metionin 0,24%, gliserol 2%, suhu fermentasi 28°C, dan waktu kultivasi 16 hari. Pada kondisi tersebut, produksi pigmen kuning mencapai 2.438,88 ± 46,04 OD units/g, sedangkan kadar sitrinin menurun menjadi 0,1801 ± 0,0082 mg/kg, yang menunjukkan peningkatan produksi pigmen sebesar 2,22 kali dan penurunan sitrinin sebesar 52,91 kali dibandingkan media basal. Tahap isolasi dan karakterisasi menunjukkan bahwa fraksi pigmen kuning hasil fermentasi mengandung komponen azaphilone yang sesuai dengan karakter monascin dan ankaflavin. Analisis HPLC menunjukkan puncak utama pada waktu retensi 7,234 menit untuk monascin dan 10,765 menit untuk ankaflavin. Data UV–Vis, FTIR, dan LC–MS mendukung keberadaan gugus fungsi, sistem kromofor, dan massa molekul yang sesuai dengan pigmen kuning azaphilone. Uji sitotoksik menunjukkan bahwa proses fraksinasi dan pemurnian meningkatkan aktivitas biologis pigmen. Ekstrak cair menunjukkan IC?? sebesar 380,12 µg/mL terhadap sel HeLa, Fraksi 5 sebesar 160,56 µg/mL, sedangkan isolat monascin dan ankaflavin masingmasing menunjukkan IC?? sebesar 19,54 µg/mL dan 23,65 µg/mL. Kedua isolat menunjukkan selektivitas yang baik terhadap sel HeLa dibandingkan HEK293, dengan nilai selectivity index masing-masing sebesar 22,02 untuk monascin dan 22,84 untuk ankaflavin. Berdasarkan hasil tersebut, pigmen kuning azaphilone dari Monascus purpureus, khususnya monascin dan ankaflavin, berpotensi sebagai kandidat senyawa aktif antikanker serviks. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi pendekatan komputasional multitarget dengan optimasi bioproses fermentasi rendah sitrinin, isolasi pigmen, dan validasi sitotoksik terhadap model sel kanker serviks. Penelitian ini memberikan dasar ilmiah awal bagi pengembangan lebih lanjut pigmen azaphilone sebagai kandidat antikanker berbasis metabolit mikroba, meskipun konfirmasi struktur definitif dan kajian mekanistik lanjutan masih diperlukan.