Tingginya tingkat konsumsi buah durian di Indonesia berbanding lurus dengan
peningkatan volume limbah organik berupa kulit durian. Selama ini pemanfaatan
limbah kulit durian sebagai biomaterial yang bernilai estetika belum dilakukan
secara optimal. Merespons kondisi tersebut, penelitian ini hadir sebagai upaya
memberikan nilai tambah dari limbah kulit durian. Limbah ini memiliki potensi
besar untuk dikembangkan menjadi biomaterial karena kandungan selulosanya
yang tinggi, sehingga berpotensi menghasilkan material dengan kekuatan
struktural, keawetan, serta tekstur yang solid. Oleh karena itu, penelitian ini
berfokus untuk menemukan metode pengolahan yang efisien guna merekayasa
limbah kulit durian menjadi biomaterial yang cocok diaplikasikan pada media
walldecor.
Tahapan pengolahan limbah dilakukan secara ringkas, meliputi ekstraksi serat
melalui pemarutan, pembersihan (scouring), serta modifikasi warna menggunakan
mordant tunjung dan bleaching. Serat hasil olahan tersebut kemudian dicampur
dengan bahan pengikat berupa lem putih PVAc (Polyvinyl Acetate) dan calcium
carbonate untuk membentuk biomaterial yang stabil dan homogen. Material ini
selanjutnya dicetak menjadi sistem modular dan dirangkai menjadi komposisi
walldecor berskala besar. Seluruh proses dievaluasi secara langsung untuk menilai
potensi tekstur, warna, dan kekuatan material yang dihasilkan.
Hasil eksplorasi menunjukkan serat kulit durian mampu direkayasa menjadi
biomaterial modular yang fleksibel untuk komposisi walldecor. Berbeda dengan
papan komposit fungsional biasa, karya ini menawarkan tekstur unik yang bisa
dirasakan langsung, serta pesan mendalam bagi konsumen yang peduli pada
keberlanjutan. Produk ini membuktikan bahwa limbah organik dapat diangkat
menjadi elemen interior bernilai seni tinggi yang selaras dengan prinsip
keberlanjutan. Secara akademis, penelitian ini menyumbang basis data empiris bagi
pengembangan biomaterial pada kriya kontemporer.
Perpustakaan Digital ITB