Perancangan karya ini berangkat dari ketertarikan terhadap motif-motif batik
Lasem yang merepresentasikan hasil akulturasi dua budaya, yaitu Jawa dan
Tionghoa. Akulturasi tersebut tercermin melalui simbol dan ornamen yang sarat
makna filosofis, seperti naga dan burung hong yang berpadu dengan elemen flora
khas pesisir Jawa. Ketertarikan terhadap perpaduan dua budaya ini menjadi dasar
eksplorasi visual dalam menciptakan karya perhiasan yang tidak hanya
menonjolkan keindahan bentuk, tetapi juga menggambarkan budaya yang telah
berlangsung secara turun-temurun di Lasem.
Dalam konteks kriya, proses perancangan ini berfokus pada eksplorasi motif batik
Lasem ke dalam bentuk koleksi perhiasan berbasis logam dengan teknik wire work.
Karya dirancang sebagai media ekspresi yang memadukan aspek estetika, simbolik,
dan teknis, di mana tubuh manusia berperan sebagai ruang untuk menghidupkan
karya tersebut. Melalui pendekatan ini, perhiasan tidak hanya berfungsi sebagai
aksesori, tetapi juga sebagai medium naratif yang merepresentasikan warisan
budaya dan identitas lokal.
Material utama yang digunakan adalah tembaga, Tembaga mentah ini kemudian
dieksplorasi melalui proses oksidasi (patina). Eksplorasi teknik work
memungkinkan terbentuknya pola-pola struktural yang terinspirasi dari motif batik.
Proses perancangan dilakukan melalui tahapan studi literatur, analisis motif,
eksplorasi bentuk, hingga eksperimen teknik dengan menerapkan prinsip
komposisi, keseimbangan, irama, penekanan, kesatuan, dan keserasian untuk
menghasilkan karya yang harmonis secara visual maupun konseptual.
Hasil akhir berupa dua set perhiasan yang mereinterpretasikan motif batik Lasem
melalui pendekatan material dan teknik kontemporer. Karya ini diharapkan dapat
menunjukkan potensi tembaga dalam kriya perhiasan sekaligus menjadi upaya
pelestarian nilai budaya lokal melalui inovasi desain.
Perpustakaan Digital ITB