Perusahaan konstruksi di Indonesia semakin berupaya menyesuaikan bidang operasinya dengan keunggulan kompetitif yang dimiliki. Ketiadaan strategi yang relevan menjadi perhatian utama bagi perusahaan yang berusaha menganalisis kapabilitas operasionalnya di pasar tertentu. WSA Construction + Planning menjadi acuan utama dalam penelitian ini. Strategi pertumbuhan yang dapat diimplementasikan dikembangkan melalui kombinasi penelitian kualitatif (wawancara dengan pemangku kepentingan sebanyak n=6) dan metodologi kuantitatif (n=87) berdasarkan jalur diversifikasi WSA. WSA membutuhkan strategi dan kerangka kerja yang lebih baik untuk menganalisis perusahaan konstruksi dan pertumbuhan pasar.
Menurut kerangka Porter’s Five Forces, pembangunan fasilitas kesehatan memiliki potensi pertumbuhan tertinggi dibandingkan tiga sektor konstruksi yang dianalisis. WSA dapat memanfaatkan dinamika pertumbuhan sektor konstruksi melalui pendekatan kompetitif multifaset karena proyeksi peningkatan pembangunan di segmen kesehatan. WSA memiliki pendekatan yang tepat dalam konstruksi melalui pengembangan kapabilitas dinamis (sensing, seizing, transforming), namun perlu memperdalam pengetahuan terkait konstruksi fasilitas kesehatan dan kepatuhan terhadap standar yang berlaku.
Strategi yang diusulkan berfokus pada spesialisasi konstruksi fasilitas kesehatan (60% dari total investasi diversifikasi, dengan target kontribusi pendapatan 33% pada tahun 2029 sebesar Rp70 miliar) serta konsultasi berbasis keberlanjutan (40% dari total investasi diversifikasi, dengan target kontribusi pendapatan 16% pada tahun 2029 sebesar Rp33,5 miliar). Kombinasi ini menciptakan posisi pasar unik sebagai sustainable healthcare construction specialist. Kerangka implementasi lima tahun memperkirakan peningkatan pendapatan dari Rp82 miliar (2024) menjadi Rp215 miliar (2029), mencerminkan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) sebesar 21% dengan internal rate of return antara 32–38%
.
Celah penelitian terletak pada integrasi teori Resource-Based View, Dynamic Capabilities Theory, dan Core Competence Theory dalam konteks diversifikasi industri konstruksi, pengembangan metode baru berbasis validasi pemangku kepentingan (stakeholder-validated market framework), serta diversifikasi kompetitif berkelanjutan berbasis keunggulan operasional. Dengan mengindeks strategi tersebut dalam konteks industri konstruksi, temuan ini memperluas kerangka kerja bagi perusahaan konstruksi menengah untuk menjalankan diversifikasi strategis yang berkelanjutan di pasar yang terus berkembang.
Perpustakaan Digital ITB