digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak - Khaira Maulina Wardah
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

Industrialisasi dan perkembangan ekonomi dalam beberapa dekade terakhir menyebabkan percepatan laju perubahan iklim dan pemanasan global, menempatkan hutan tropis sebagai objek vital mitigasi karena kemampuannya menyimpan dan menyerap karbon dalam jumlah besar. Kalimantan Barat merupakan salah satu wilayah strategis dalam pencapaian target emisi nasional yang berkontribusi terhadap 12% target penyerapan karbon nasional. Penelitian ini menganalisis dinamika tutupan lahan dan deforestasi periode 1990–2020, mengestimasi simpanan dan kehilangan karbon pada periode tersebut, membangun model prediksi tutupan lahan tahun 2030 dan 2040 melalui tiga skenario, serta menentukan skenario terbaik berdasarkan kehilangan karbon paling rendah. Analisis LUCC menggunakan peta tutupan lahan KLHK, sementara estimasi karbon menggunakan metode Look Up Table dengan pendetailan kerapatan vegetasi melalui NDVI. Model prediksi dibangun menggunakan Land Change Modeler berbasis Cellular Automata dan Rantai Markov dengan tujuh faktor pendorong (elevasi, kemiringan lahan, jenis tanah, jarak dari jalan, jarak dari perkebunan, jarak dari permukiman, dan kepadatan penduduk), divalidasi melalui uji Kappa, kemudian diproyeksikan pada tiga skenario: Business as Usual (BAU), Conservation Forest Protection (CFP), dan Oil Palm Expansion (OPE). Hasil menunjukkan hutan alam sebagai tutupan lahan paling dominan di Kalimantan Barat periode 1990–2020, namun mengalami deforestasi seluas 2,08 juta ha (27,5% dari luas awal), sementara perkebunan mencatat perubahan luas paling masif dengan penambahan 2,1 juta ha (866% dari luas awal). Sebagian besar lahan terdeforestasi dikonversi menjadi perkebunan (42%), semak dan padang rumput (25%), serta permukiman (24%), dengan total kehilangan karbon mencapai 244 juta ton karbon (?898,6 juta ton CO?e) selama tiga dekade. Model prediksi menghasilkan nilai Kappa 0,85, dinilai layak untuk memproyeksikan peta tahun 2030 dan 2040. Skenario BAU diproyeksikan menghasilkan kehilangan hutan 383 ribu ha (2030) dan 374 ribu ha (2040), dengan kehilangan karbon 113 dan 163 juta ton karbon. Skenario OPE memperburuk kondisi dengan kehilangan karbon 134 dan 174 juta ton karbon pada kedua tahun, sementara skenario CFP justru menghasilkan penambahan luas hutan 372 ribu ha (2030) dan 381 ribu ha (2040), dengan kehilangan karbon paling rendah sebesar 88 dan 140 juta ton karbon. Skenario CFP teridentifikasi sebagai skenario terbaik dan paling relevan dengan target penurunan emisi sektor kehutanan Provinsi Kalimantan Barat pada tahun 2030.