Tekanan radiasi Matahari (Solar Radiation Pressure, SRP) merupakan salah
satu perturbasi non-gravitasi yang memengaruhi dinamika orbit satelit komunikasi geostasioner (GEO), sedangkan aktivitas Matahari ekstrem yang memicu badai geomagnetik berpotensi menimbulkan anomali pada parameter orbit.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh SRP terhadap dinamika orbit satelit komunikasi GEO, mengevaluasi kinerja model spherical dan
model flat dalam merepresentasikan pengaruh SRP berdasarkan data orbit riil, dan mengkaji respons parameter orbit selama badai geomagnetik Mei 2024
menggunakan metode Seasonal-Trend decomposition using Loess (STL). Penelitian dilakukan menggunakan data Two-Line Element (TLE) dan data orbit
riil satelit komunikasi Indonesia periode Juni 2019–Januari 2023. Simulasi orbit dilakukan menggunakan perangkat lunak FreeFlyer dengan model spherical
dan model flat untuk periode Juni 2019–Juni 2029, sedangkan analisis badai
geomagnetik Mei 2024 dilakukan melalui dekomposisi STL.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa SRP memengaruhi evolusi seluruh elemen orbit Kepler yaitu setengah sumbu panjang (a), eksentrisitas (e), inklinasi
(i), argument of perigee (?), right ascension of the ascending node (?), dan
anomali rata-rata (M). Perbandingan antara model spherical dan model flat
menghasilkan perbedaan maksimum sebesar 0, 022 km untuk parameter a,
6, 96 × 10?5
° untuk parameter i, 5, 4 × 10?5 untuk parameter e, dan 7 × 10?4
°
untuk parameter ?, dengan koefisien korelasi Pearson masing-masing sekitar
0, 99, 0, 99, 0, 98, dan 0, 99. Perbedaan numerik pada ? dan M mencapai
sekitar 358?
, dengan koefisien korelasi Pearson masing-masing sekitar 0, 94
dan 0, 91, yang terutama disebabkan oleh sifat periodik variabel sudut (angle
wrapping). Hasil perbandingan terhadap data orbit riil menunjukkan bahwa
kedua model mampu mereproduksi karakteristik utama dinamika orbit satelit
geostasioner. Perbedaan yang masih terlihat terutama disebabkan oleh pengaruh manuver station-keeping dan perturbasi lain yang tidak dimodelkan secara
eksplisit.Analisis STL menunjukkan bahwa badai geomagnetik Mei 2024 berkaitan dengan munculnya anomali pada parameter orbit satelit geostasioner.
Parameter a, e, dan M menunjukkan respons yang muncul segera setelah fase
utama badai geomagnetik, sedangkan perubahan pada i, ?, dan ? cenderung
muncul beberapa hari setelah puncak badai. Hasil tersebut menunjukkan bahwa respons parameter orbit terhadap gangguan cuaca antariksa tidak terjadi
secara serempak, melainkan bergantung pada karakteristik masing-masing parameter orbit.
Perpustakaan Digital ITB