digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Almira Shaliha Rukmana
Terbatas  Yati Rochayati
» Gedung UPT Perpustakaan

almira shaliha rukmana
EMBARGO  2029-10-19 

almira shaliha rukmana
EMBARGO  2029-10-19 

almira shaliha rukmana
EMBARGO  2029-10-19 

almira shaliha rukmana
EMBARGO  2029-10-19 

almira shaliha rukmana
EMBARGO  2029-10-19 

almira shaliha rukmana
EMBARGO  2029-10-19 

almira shaliha rukmana
PUBLIC Open In Flipbook Yati Rochayati

Aspaltena merupakan salah satu fraksi berat di dalam minyak mentah. Umumnya, struktur aspaltena berupa poliaromatik dengan beberapa heteroatom seperti S, N, dan O. Struktur ini menyebabkan aspaltena kurang stabil, dapat teragregasi dan terdeposisi. Proses-proses tersebut menimbulkan masalah pada industri perminyakan, seperti penyumbatan pipa. Oleh karena itu, agregasi aspaltena perlu dicegah dengan cara menambahkan suatu molekul dispersan yang dapat memisahkan molekul aspaltena. Resorsinarena adalah senyawa hasil kondensasi antara resorsinol dan suatu aldehida yang memiliki struktur kepala dan ekor. Struktur kepala resorsinarena bisa berinteraksi baik dengan aspaltena karena merupakan suatu poliaromatik, sementara struktur ekornya yang merupakan gugus alifatik panjang bisa berinteraksi baik dengan pelarut atau komponen minyak mentah lain. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis interaksi antara aspaltena dan resorsinarena pada pelarut yang berbeda, serta menganalisis pengaruh perbedaan tipe aspaltena dan pelarut pada efektivitas resorsinarena sebagai pencegah proses agregasi melalui simulasi molecular dynamics (MD). Struktur aspaltena dan resorsinarena dimodelkan melalui piranti lunak Avogadro dan struktur topologi diperoleh dari laman Automated Topology Builder (ATB). Sistem yang disimulasikan dibuat melalui GROMACS versi 2024.3 dengan ukuran kotak 9×9×9 nm3 lalu 10 molekul aspaltena setipe, 30 molekul resorsinarena, dan pelarut dimasukkan ke dalam kotak. Terdapat tiga tipe aspaltena yang digunakan yakni tipe archipelago (A), island (I), dan resin (R), sementara itu pelarut yang dipakai adalah heptana, toluena, dan air. Simulasi MD dilakukan dengan proses minimalisasi energi lalu penyeimbangan volume dan tekanan pada 1 bar dan 300 K serta produksi MD dilakukan hingga 100 ns. Analisis dari MD yang sudah disimulasikan meliputi analisis densitas, solvent accessible surface area (SASA), radial distribution function (RDF), dan koefisien difusi pelarut. Hasil dari analisis densitas, SASA, RDF, dan koefisien difusi pelarut menunjukkan resorsinarena sebagai dispersan paling efektif di pelarut heptana untuk aspaltena tipe I sedangkan pada tipe A dan R, keberadaan resorsinarena dalam sistem tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap proses agregasi aspaltena. Hal ini ditunjukkan dari penurunan koefisien difusi sebesar 23,57%, penurunan rata-rata densitas dari 72 kg/m3 menjadi 65 kg/m3, dan kenaikan rata-rata nilai SASA dari 81 nm2 menjadi 91 nm2.