digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Melesatnya pertumbuhan eksplorasi dan peluncuran antariksa membuat orbit Bumi ketinggian rendah (LEO) menjadi sangat padat, namun Indonesia belum memiliki model populasi space debris yang dapat memberikan evaluasi risiko orbit. Untuk menjawab tantangan ini, penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sebuah model evolusi populasi space debris di LEO yang dapat memperlihatkan evolusi jangka panjang dan menganalisis efek fragmentasi akibat ledakan, prediksi peluncuran di masa depan, dan adanya orbital decay. Metodologi yang digunakan pada penelitian ini adalah propagator SGP4 (Simplied General Perturbations) yang mempertimbangkan perturbasi akibat gaya potensial gravitasi Bumi dan gaya hambat atmosfer, serta mengintegrasikan analisis survival Kaplan-Meier un- tuk mengestimasi kemungkinan ledakan, NASA Standard Break-up Model un- tuk pembuatan puing-puing akibat ledakan, dan LSTM neural network untuk melakukan prediksi launch trac di masa depan. Penelitian ini berhasil mem- berikan prediksi spatial density hingga tahun 2051, menunjukkan bahwa keja- dian ledakan memberikan efek penambahan yang terkonsentrasi sedangkan pe- nambahan objek-objek baru di masa depan cenderung memberikan penambahan yang terdistribusi merata pada beberapa ketinggian orbit. Secara keseluruhan, hasil prediksi model ini memberikan populasi objek antariksa di LEO yang terus bertambah dan semakin padat, sehingga menambah risiko kegagalan operasional untuk misi di masa depan dan menekankan kebutuhan adanya langkah-langkah mitigasi seperti post-mission disposal, active debris removal, dan mitigasi ledakan.