Pasar e-commerce Indonesia tumbuh pesat, tetapi infrastruktur logistik yang
mendukungnya masih terfragmentasi dan sangat terkonsentrasi di sekitar Pulau Jawa.
Meskipun platform marketplace telah memperluas akses pasar digital ke seluruh
kepulauan Indonesia, banyak wilayah masih menghadapi biaya pengiriman yang tinggi,
rentang waktu pengiriman yang panjang berdasarkan estimasi yang dipublikasikan oleh
kurir, dan pilihan layanan logistik yang terbatas. Kondisi ini menciptakan spatial
mismatch antara permintaan digital dan aksesibilitas logistik fisik.
Penelitian ini menganalisis mismatch tersebut dengan menggunakan analisis spasial
logistik berbasis data sekunder. Dataset utama terdiri dari 7.269 catatan product
shipment Tokopedia yang telah dibersihkan, berasal dari 205 wilayah asal penjual dan
26 kategori produk, seluruhnya bertujuan ke Jakarta Pusat. Analisis ini juga
mengintegrasikan dataset pendukung mengenai pelabuhan, bandara, outlet PT Pos
Indonesia, titik layanan dan ringkasan biaya KALOG Express, gudang, serta fasilitas
Terminal Barang Internasional. Lima indikator dikembangkan, yaitu Demand Signal
Index, Shipping Cost Index, Multimodal Logistics Accessibility Index, Spatial Mismatch
Index, dan Regional Logistics Penalty Index. Delivery Time Index diperlakukan sebagai
indikator pendukung berbasis estimasi karena diturunkan dari rentang estimasi waktu
tiba yang dipublikasikan oleh kurir, bukan dari realisasi waktu pengiriman aktual.
Temuan penelitian menunjukkan bahwa permasalahan logistik e-commerce Indonesia
bersifat tidak merata secara spasial. Aktivitas marketplace sangat terkonsentrasi, dengan
Jakarta mencatatkan sinyal permintaan tertinggi dan beberapa kota di Indonesia Timur
tidak menunjukkan sinyal marketplace yang teramati dalam dataset. Penalti logistik juga
bervariasi antarwilayah: beberapa kota menghadapi beban yang didorong oleh biaya,
sementara kota lainnya menghadapi beban akibat rentang waktu pengiriman yang lebih
panjang. Analisis spatial mismatch mengidentifikasi kesenjangan berbasis permintaan di
beberapa kota sekunder di Pulau Jawa, surplus berbasis penawaran di beberapa ibu kota
luar pulau, dan zona tanpa sinyal di sebagian wilayah Indonesia Timur. Klasterisasi K
means dan klasifikasi berbasis aturan menghasilkan tipologi lima zona logistik yang
dapat digunakan untuk mengarahkan respons kebijakan yang terdiferensiasi.
Kontribusi utama tesis ini adalah pengembangan National Adaptive E-Commerce
Logistics Orchestration Framework. Framework ini menghubungkan demand
intelligence, pengukuran kinerja logistik, aksesibilitas infrastruktur, diagnosis spatial
mismatch, operasi berbasis zona, koordinasi tata kelola, dan rekalibrasi adaptif.
Framework ini memperluas Resource Orchestration Theory ke dalam tata kelola logistik
nasional dan menerapkan Spatial Mismatch Theory pada konteks e-commerce kepulauan
Indonesia. Secara metodologis, penelitian ini menunjukkan bagaimana data marketplace
dapat melengkapi data infrastruktur logistik dan mendukung diagnosis logistik berskala
nasional tanpa sepenuhnya bergantung pada pengumpulan survei khusus.
Perpustakaan Digital ITB