digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Pasar e-commerce Indonesia tumbuh pesat, tetapi infrastruktur logistik yang mendukungnya masih terfragmentasi dan sangat terkonsentrasi di sekitar Pulau Jawa. Meskipun platform marketplace telah memperluas akses pasar digital ke seluruh kepulauan Indonesia, banyak wilayah masih menghadapi biaya pengiriman yang tinggi, rentang waktu pengiriman yang panjang berdasarkan estimasi yang dipublikasikan oleh kurir, dan pilihan layanan logistik yang terbatas. Kondisi ini menciptakan spatial mismatch antara permintaan digital dan aksesibilitas logistik fisik. Penelitian ini menganalisis mismatch tersebut dengan menggunakan analisis spasial logistik berbasis data sekunder. Dataset utama terdiri dari 7.269 catatan product shipment Tokopedia yang telah dibersihkan, berasal dari 205 wilayah asal penjual dan 26 kategori produk, seluruhnya bertujuan ke Jakarta Pusat. Analisis ini juga mengintegrasikan dataset pendukung mengenai pelabuhan, bandara, outlet PT Pos Indonesia, titik layanan dan ringkasan biaya KALOG Express, gudang, serta fasilitas Terminal Barang Internasional. Lima indikator dikembangkan, yaitu Demand Signal Index, Shipping Cost Index, Multimodal Logistics Accessibility Index, Spatial Mismatch Index, dan Regional Logistics Penalty Index. Delivery Time Index diperlakukan sebagai indikator pendukung berbasis estimasi karena diturunkan dari rentang estimasi waktu tiba yang dipublikasikan oleh kurir, bukan dari realisasi waktu pengiriman aktual. Temuan penelitian menunjukkan bahwa permasalahan logistik e-commerce Indonesia bersifat tidak merata secara spasial. Aktivitas marketplace sangat terkonsentrasi, dengan Jakarta mencatatkan sinyal permintaan tertinggi dan beberapa kota di Indonesia Timur tidak menunjukkan sinyal marketplace yang teramati dalam dataset. Penalti logistik juga bervariasi antarwilayah: beberapa kota menghadapi beban yang didorong oleh biaya, sementara kota lainnya menghadapi beban akibat rentang waktu pengiriman yang lebih panjang. Analisis spatial mismatch mengidentifikasi kesenjangan berbasis permintaan di beberapa kota sekunder di Pulau Jawa, surplus berbasis penawaran di beberapa ibu kota luar pulau, dan zona tanpa sinyal di sebagian wilayah Indonesia Timur. Klasterisasi K means dan klasifikasi berbasis aturan menghasilkan tipologi lima zona logistik yang dapat digunakan untuk mengarahkan respons kebijakan yang terdiferensiasi. Kontribusi utama tesis ini adalah pengembangan National Adaptive E-Commerce Logistics Orchestration Framework. Framework ini menghubungkan demand intelligence, pengukuran kinerja logistik, aksesibilitas infrastruktur, diagnosis spatial mismatch, operasi berbasis zona, koordinasi tata kelola, dan rekalibrasi adaptif. Framework ini memperluas Resource Orchestration Theory ke dalam tata kelola logistik nasional dan menerapkan Spatial Mismatch Theory pada konteks e-commerce kepulauan Indonesia. Secara metodologis, penelitian ini menunjukkan bagaimana data marketplace dapat melengkapi data infrastruktur logistik dan mendukung diagnosis logistik berskala nasional tanpa sepenuhnya bergantung pada pengumpulan survei khusus.