digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Perkembangan fintech lending di Indonesia membawa risiko nyata terkait risky borrowing intention, mulai dari tingkat gagal bayar yang tinggi hingga masalah financial strain yang memengaruhi kesejahteraan pengguna. Berlandaskan Theory of Planned Behavior, penelitian ini menguji bagaimana determinan psikologis (trust in banks, trust in risky lending institutions, dan financial knowledge), determinan sosiologis (social norms), serta determinan perilaku (general financial healthiness) memengaruhi risky borrowing intention di kalangan dewasa muda di Jawa yang familier dengan layanan fintech lending. Penelitian ini menerapkan metodologi penelitian kuantitatif eksplanatori yang dikombinasikan dengan desain penelitian survei lintas-seksional. Data dianalisis menggunakan pendekatan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) melalui perangkat lunak SmartPLS. Model struktural menunjukkan kekuatan eksplanatori yang substansial terhadap niat meminjam berisiko. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa General Financial Healthiness memiliki pengaruh negatif yang signifikan secara statistik, bertindak sebagai prediktor terkuat. Social Norm memiliki dampak positif yang signifikan secara statistik, bertindak sebagai prediktor terkuat kedua. Financial Knowledge memiliki pengaruh positif yang signifikan, menunjukkan adanya financial knowledge paradox di mana subjective financial knowledge memicu overconfidence. Trust in Bank memiliki pengaruh negatif yang signifikan secara statistik. Sebaliknya, Trust in Risky Lending Institution tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap niat meminjam berisiko. Temuan ini menunjukkan bahwa keputusan meminjam didorong oleh liquidity constraints alih-alih dinamika kepercayaan institusional. Rekomendasi yang diberikan mencakup penyediaan fasilitas micro credit yang menyasar pemuda oleh bank ritel, mereformasi kampanye literasi keuangan nasional ke arah pengetahuan objektif dan operasional melalui simulasi wajib, menerapkan pendekatan antargenerasi untuk norma sosial, serta mempromosikan program micro-saving untuk mengatasi masalah structural cash pressure. Kata Kunci: Fintech Lending, Risky Borrowing Intention, Theory of Planned Behavior, Financial Knowledge Paradox, Dewasa Muda.