Pertumbuhan kendaraan listrik yang pesat membutuhkan sistem manajemen termal yang efisien untuk menjamin keamanan baterai, keandalan penggerak, dan kenyamanan kabin. Namun, konfigurasi pendingin konvensional mengandalkan jumlah refrigeran besar, sementara regulasi nasional menuntut peningkatan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) untuk mendorong produksi otomotif domestik. Penelitian ini bertujuan merancang konsep sistem pendingin kendaraan listrik dengan siklus refrigeran kompak, pengondisian kabin tidak langsung, tanpa pemanas, serta menentukan seleksi komponen untuk meminimalkan konsumsi energi dan memaksimalkan manufaktur lokal.
Metodologi penelitian mengintegrasikan pemodelan sistem fisik dinamik pada perangkat lunak MATLAB Simulink-Simscape mengacu siklus kendara US06 yang diulang pada kondisi lingkungan puncak Indonesia. Validasi laju perpindahan panas keadaan tunak dilakukan terhadap model numerik dengan perbedaan persentase di bawah 5%. Pendekatan eksplorasi ruang desain tiga tahap diterapkan untuk mengevaluasi kombinasi komponen, yang mencakup kompresor, pompa pendingin, kipas, blower, dan penukar panas, berdasarkan batasan target temperatur dan penggunaan energi minimal.
Sistem yang diajukan berhasil mempertahankan unit baterai pada 15–35°C, sistem penggerak pada 20–90°C, dan menurunkan temperatur kabin hingga 25°C dalam waktu kurang dari 10 menit. Konfigurasi optimal membutuhkan konsumsi daya sekitar 2,7 kW selama proses penurunan temperatur, sesuai kebutuhan termal otomotif tipikal. Potensi kemampuan manufaktur lokal dipetakan untuk komponen seperti radiator, kondensor, chiller, kompresor elektrik, kipas, peniup, dan perpipaan. Namun, komponen seperti pompa pendingin elektrik, katup ekspansi, dan katup pengarah saat ini masih membutuhkan pasokan luar negeri. Penelitian ini menawarkan tata letak sistem pendingin refrigeran kompak yang mendukung rantai pasok lokal.
Perpustakaan Digital ITB