digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Sistem interkoneksi 500 kV Jawa-Bali, khususnya pada koridor transmisi Paiton- Grati, memiliki kerentanan kestabilan transien terhadap gangguan kontingensi ganda (N-2). Pada operasi normal, aliran daya dari GITET Paiton menuju 2 koridor yaitu GITET Grati dan GITET Kediri. Apabila SUTET Paiton-Grati lepas 2 sirkit maka aliran daya akan beralih seluruhnya melalui koridor Paiton-Kediri yang menyebabkan transfer daya melewati kuat hantar arus (KHA) saluran tersebut. Kondisi ini akan menyebabkan gangguan meluas dan pernah terjadi pada tahun 2018. Penelitian ini mengusulkan perancangan System Integrity Protection Scheme (SIPS) berbasis Wide Area Monitoring, Protection, and Control (WAMPAC) menggunakan protokol komunikasi Routable GOOSE (R-GOOSE) untuk mencegah instabilitas tersebut. Metodologi yang digunakan adalah co-simulation, menggabungkan simulasi dinamika sistem kelistrikan menggunakan perangkat lunak DIgSILENT PowerFactory dan simulasi jaringan telekomunikasi IP/MPLS menggunakan OMNeT++. Algoritma WAMPAC dirancang untuk mengeksekusi pelepasan pembangkit (generation rejection) pada pembangkit Paiton dan pelepasan beban (load shedding) di beberapa subsistem secara serentak (multicast) berdasarkan parameter nilai threshold selisih sudut tegangan (?????) antara GITET Paiton dan GITT Kediri melalui pembacaan data dari Phasor Measurement Unit (PMU). Simulasi dilakukan dengan 4 jenis pembebanan yaitu rendah, rata-rata, puncak dan ekstrim dengan mempertimbangkan aliran daya transfer pada koridor Paiton- Kediri. Hasil simulasi menunjukkan bahwa tanpa WAMPAC, sistem mengalami kolaps pada kondisi beban puncak dan ekstrim. Dengan implementasi WAMPAC, skenario kombinasi pelepasan 4 unit generator Paiton dan pelepasan beban variasi 3 terbukti paling optimal menyelamatkan sistem. Skenario ini mampu mengembalikan ekuilibrium frekuensi diatas batas Under Frequency Relay (> 49,00 Hz) dan menjaga profil tegangan sesuai Grid Code (> 475 kV). Analisis sensitivitas membuktikan batas maksimum latensi komunikasi adalah 230 ms. Sementara itu, validasi jaringan fisik optik eksisting melalui OMNeT++ mencatat latensi end-to-end sebesar 1,1 ms. Hal ini mengonfirmasi bahwa arsitektur Rii GOOSE sangat tangguh, efisien, dan mematuhi standar komunikasi waktu kritis IEC TR 61850-90-5.