DAMPAK PROGRAM PENYEDIAAN SARANA DAN PRASARANA SANITASI DI LEMBAGA PENDIDIKAN KEAGAMAAN (LPK) TERHADAP PENGELOLAAN SANITASI SEKOLAH DAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) SANTRI DI PONDOK PESANTREN (STUDI KASUS: KECAMATAN SAMARANG DAN MALANGBONG, KABUPATEN GARUT)
PUBLIC Open In Flipbook Rohmat Fauzi, S.P.
DAMPAK PROGRAM PENYEDIAAN SARANA DAN
PRASARANA SANITASI DI LEMBAGA PENDIDIKAN
KEAGAMAAN (LPK) TERHADAP PENGELOLAAN
SANITASI SEKOLAH DAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN
SEHAT (PHBS) SANTRI DI PONDOK PESANTREN
(Studi Kasus: Kecamatan Samarang dan Malangbong,
Kabupaten Garut)
Oleh
Mutiara Ekagusbarani
NIM: 25723305
(Program Studi Magister Pengelolaan Infrastruktur Air Bersih
dan Sanitasi)
Program Penyediaan Sarana dan Prasarana Sanitasi di Lembaga Pendidikan
Keagamaan (LPK) bertujuan meningkatkan akses sanitasi layak serta mendukung
perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Penelitian ini menganalisis dampak
program terhadap pengelolaan sanitasi dan PHBS santri dengan membandingkan
dua pondok pesantren penerima dan dua pondok pesantren non-penerima program
di Kabupaten Garut. Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods melalui
observasi, wawancara mendalam, dan kuesioner terhadap 160 santri, yang terdiri
atas 80 santri pada setiap kelompok. Analisis dilakukan menggunakan uji Mann–
Whitney, Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS), serta
integrasi Importance–Performance Analysis (IPA) dan SWOT. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa pondok pesantren penerima program berada pada kategori
layanan sanitasi dasar dengan rata-rata nilai pengelolaan operasional sebesar 2,82
atau kategori sangat baik, sedangkan kelompok non-penerima berada pada
kategori layanan terbatas dengan rata-rata nilai 1,91 atau kategori sedang. Uji
Mann–Whitney menunjukkan perbedaan signifikan pada sikap (p=0,001), norma
subjektif (p=0,019), persepsi kontrol perilaku (p<0,001), niat (p=0,006), dan
perilaku PHBS (p<0,001), dengan kecenderungan nilai lebih tinggi pada
kelompok penerima program. Hasil SEM-PLS pada kelompok penerima
menunjukkan bahwa sikap (?=0,478; p<0,001) dan persepsi kontrol perilaku
(?=0,317; p<0,001) berpengaruh positif terhadap niat, sedangkan niat (?=0,551;
p<0,001) dan persepsi kontrol perilaku (?=0,238; p=0,007) berpengaruh positif
terhadap perilaku PHBS. Pada kelompok non-penerima, sikap (?=0,328; p=0,001)
dan persepsi kontrol perilaku (?=0,394; p<0,001) berpengaruh positif terhadap
niat, sedangkan niat (?=0,347; p=0,003) dan persepsi kontrol perilaku (?=0,346;
p<0,001) berpengaruh positif terhadap perilaku. Norma subjektif tidak
berpengaruh signifikan terhadap niat pada kelompok penerima (?=0,032;
p=0,754) maupun non-penerima (?=0,140; p=0,107). Strategi bagi kelompokii
penerima diarahkan pada keberlanjutan fasilitas dan pembiasaan PHBS,
sedangkan kelompok non-penerima memerlukan pemenuhan sarana dasar dan
penguatan pengelolaan sanitasi. Secara keseluruhan, Program Sanitasi LPK
menunjukkan dampak positif terhadap pengelolaan sanitasi dan PHBS santri pada
lokasi penelitian. Temuan ini memberikan bukti empiris bagi pengembangan
kajian sanitasi pesantren dan dapat digunakan sebagai rujukan analitis pada
pondok pesantren atau pelaksanaan program dengan karakteristik serupa.
Perpustakaan Digital ITB