Krisis tata kelola perusahaan dapat berkembang menjadi peristiwa risiko
keuangan ketika pengungkapan publik mengubah ekspektasi pemangku
kepentingan, intensitas pengawasan regulator, dan pengambilan keputusan
manajerial. Penelitian ini menguji apakah pengungkapan publik pada 2025 atas
dugaan perkara tata kelola minyak mentah dan produk kilang Pertamina periode
2018–2023 berkaitan dengan perubahan indikator risiko keuangan PT Pertamina
Hulu Energi (PHE), yaitu subholding hulu yang tidak diidentifikasi sebagai entitas
utama dalam dugaan yang diungkapkan. Penelitian menggunakan desain studi
kasus tunggal kuantitatif berbasis arsip dan laporan keuangan konsolidasian
teraudit. Periode observasi 2021–2025 terdiri atas 2021–2024 sebagai baseline
empat tahun sebelum pengungkapan setelah PHE menjadi Subholding Upstream
dan 2025 sebagai tahun pengungkapan/peristiwa. Profitabilitas dianalisis melalui
Laba Bersih, Return on Assets (ROA), dan Return on Equity (ROE); likuiditas
jangka pendek melalui Current Ratio; serta risiko struktur modal melalui Debt-to-
Equity Ratio (DER). Analisis tren dan perbandingan terhadap rata-rata baseline
digunakan tanpa mengklaim hubungan kausal.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa profitabilitas PHE pada 2025 berada
secara material di bawah baseline 2021–2024: Laba Bersih sekitar 35% lebih
rendah daripada rata-rata baseline, ROA turun dari rata-rata 10,99% menjadi
6,98%, dan ROE turun dari rata-rata 23,02% menjadi 14,40%. Sebaliknya, DER
2025 sebesar 1,04, sama dengan rata-rata sebelum pengungkapan, sehingga tidak
menunjukkan pelemahan leverage neraca yang sebanding. Current Ratio tetap di
atas 1,00 selama 2021–2024, tetapi turun dari 2,00 pada 2022 menjadi 1,30 pada
2024; karena Current Ratio 2025 yang dapat direkonstruksi secara konsisten tidak
tersedia dalam dataset yang diekstraksi, penelitian tidak menyimpulkan dampak
likuiditas pada tahun peristiwa. Temuan ini menunjukkan hubungan antara tahun
pengungkapan dan pelemahan profitabilitas, tetapi tidak membuktikan terjadinya
kesulitan keuangan secara menyeluruh. Dampak spillover tata kelola dapat
berbeda antardimensi keuangan dan harus ditafsirkan bersama faktor operasional,
harga komoditas, pendanaan, serta siklus investasi.
Kata kunci: krisis tata kelola perusahaan, indikator risiko keuangan, BUMN, PT
Pertamina Hulu Energi, profitabilitas, likuiditas, leverage, spillover grup usaha.
Perpustakaan Digital ITB