digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Krisis tata kelola perusahaan dapat berkembang menjadi peristiwa risiko keuangan ketika pengungkapan publik mengubah ekspektasi pemangku kepentingan, intensitas pengawasan regulator, dan pengambilan keputusan manajerial. Penelitian ini menguji apakah pengungkapan publik pada 2025 atas dugaan perkara tata kelola minyak mentah dan produk kilang Pertamina periode 2018–2023 berkaitan dengan perubahan indikator risiko keuangan PT Pertamina Hulu Energi (PHE), yaitu subholding hulu yang tidak diidentifikasi sebagai entitas utama dalam dugaan yang diungkapkan. Penelitian menggunakan desain studi kasus tunggal kuantitatif berbasis arsip dan laporan keuangan konsolidasian teraudit. Periode observasi 2021–2025 terdiri atas 2021–2024 sebagai baseline empat tahun sebelum pengungkapan setelah PHE menjadi Subholding Upstream dan 2025 sebagai tahun pengungkapan/peristiwa. Profitabilitas dianalisis melalui Laba Bersih, Return on Assets (ROA), dan Return on Equity (ROE); likuiditas jangka pendek melalui Current Ratio; serta risiko struktur modal melalui Debt-to- Equity Ratio (DER). Analisis tren dan perbandingan terhadap rata-rata baseline digunakan tanpa mengklaim hubungan kausal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa profitabilitas PHE pada 2025 berada secara material di bawah baseline 2021–2024: Laba Bersih sekitar 35% lebih rendah daripada rata-rata baseline, ROA turun dari rata-rata 10,99% menjadi 6,98%, dan ROE turun dari rata-rata 23,02% menjadi 14,40%. Sebaliknya, DER 2025 sebesar 1,04, sama dengan rata-rata sebelum pengungkapan, sehingga tidak menunjukkan pelemahan leverage neraca yang sebanding. Current Ratio tetap di atas 1,00 selama 2021–2024, tetapi turun dari 2,00 pada 2022 menjadi 1,30 pada 2024; karena Current Ratio 2025 yang dapat direkonstruksi secara konsisten tidak tersedia dalam dataset yang diekstraksi, penelitian tidak menyimpulkan dampak likuiditas pada tahun peristiwa. Temuan ini menunjukkan hubungan antara tahun pengungkapan dan pelemahan profitabilitas, tetapi tidak membuktikan terjadinya kesulitan keuangan secara menyeluruh. Dampak spillover tata kelola dapat berbeda antardimensi keuangan dan harus ditafsirkan bersama faktor operasional, harga komoditas, pendanaan, serta siklus investasi. Kata kunci: krisis tata kelola perusahaan, indikator risiko keuangan, BUMN, PT Pertamina Hulu Energi, profitabilitas, likuiditas, leverage, spillover grup usaha.