digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

2008 TA PP HARRY SENJAYA GUNAWAN 1-COVER.pdf


2008 TA PP HARRY SENJAYA GUNAWAN 1-BAB1.pdf

2008 TA PP HARRY SENJAYA GUNAWAN 1-BAB2.pdf

2008 TA PP HARRY SENJAYA GUNAWAN 1-BAB3.pdf

2008 TA PP HARRY SENJAYA GUNAWAN 1-PUSTAKA.pdf

Salah satu kebutuhan pokok dari manusia adalah makan. Di Bandung, terdapat lebih dari 2 juta penduduk. Data dari BPS (Biro Pusat Statistik) di tahun 2006, menunjukkan rata-rata penduduk Bandung menghabiskan Rp 149,172.00 setiap bulan untuk makanan. Jika kedua data ini digabungkan, kita akan menemukan besarnya pasar makanan di Bandung yaitu lebih besar dari Rp 293.344 miliar setiap bulannya. Ini adalah sebuah peluang untuk bergerak di bidang penyediaan makanan. Dimana rantai bisnis di bidang ini dimulai dari petani dan perternak, kemudian pedagang di pasar tradisional dan pasar modern, dan di ujung dari rantai usaha ini adalah rumah makan. Terdapat beberapa tipe rumah makan, secara dasar berdasarkan jenisnya, yaitu rumah makan keluarga, pedagang kaki lima (PKL) atau warung, caf, dan gabungannya. Pedagang kaki lima adalah yang paling menarik dari semua. Didalamnya masih banyak peluang untuk dikembangkan. PKL dapat menyediakan makanan yang bervariasi. Mulai dari cemilan hingga makanan berat seperti steak. Makanan yang ditawarkan oleh PKL tidak pernah terbatas oleh batas wilayah. Makanan barat seperti burger dapat dengan mudah ditemukan. Disisi lain, makanan daerah seperti pisang ijo dari Sulawesi Selatan juga dapat dengan mudah dijumpai di salah satu kelompok PKL. Takoyaki adalah salah satu makanan jalanan. Berasal dari Jepang, Takoyaki mendapat penerimaan dari orang-orang diluar Jepang. Salah satu di antaranya berasal dari Indonesia. Takoyaki adalah makanan dari tepung yang berbentuk bola dengan isi di dalamnya. Takoyaki di Indonesia dapat dijumpai di pusat perbelanjaan. Salah satu diantaranya dapat menjual setidaknya 50 takoyaki seharinya. Bisnis takoyaki di mall telah terbukti sukses di Indonesia. Yang menjadi permasalahan adalah seberapa mungkin untuk Takoyaki dijual sebagaimana di Negara asalnya dan jika mungkin seberapa besar keuntungan dan apa strategi dari perusahaan untuk dapat menwujudkannya. Untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut, beberapa langkah akan dilakukan. Langkah-langkah itu antara lain melakukan penelitian pasar menggunakan data primer dan sekunder untuk mengetahui besarnya peluang, membuat analisa pesaing untuk beberapa pesaing langsung, membuat analisa untuk beberapa aspek pemasaran, manajemen, keuangan, dan proses bisnis. Semua langkah-langkah itu akan dirumuskan dan digabungkan menjadi sebuah rencana bisnis. Dalam rencana bisnis ini, Takoyaking adalah nama perusahaan yg dipilih. Nama ini terdiri dari gabungan 2 kata yaitu takoyaki dan king. Ini untuk menunjukkan bahwa Takoyaking ingin menjadi pemimpin pasar. Takoyaking akan dimulai sebagai sebuah bisnis perseorangan yang dimiliki oleh pendirinya. Lokasi pertama telah ditentukan di Jalan Balong Gede No. 67, Bandung. Dalam rencana, Takoyaking akan mulai beroperasi pada November 2008. Di dalam proses pembuatan rencana bisnis, terdapat beberapa pilihan. Salah satu pilihan penting yang dipilih adalah keputusan untuk mendapatkan sertifikasi halal dari MUI. Keputusan ini menambah beberapa biaya di permulaan. Keputusan penting lainnya adalah bagaimana sistem kompensasi pegawai. Terdapat pilihan untuk memberikan berdasarkan penjualan, berdasarkan rata-rata di daerah, atau berdasarkan UMR (Upah Minimum Regional). Pada akhirnya keputusan yang diambil adalah mendapatkan sertifikasi halal untuk menjamin manfaat makanan bagi konsumen dan memberikan kompensasi dalam bentuk UMR dimana lebih tinggi dari rata-rata di daerah sekitar. Penelitian yang dilakukan menemukan dengan menggunakan discount rate 9.25% (dari BI rate untuk September 2008), NPV yang diterima investor untuk 3 tahun pertama operasional Takoyaking adalah RP 67, 996,740.16 sedangkan IRR-nya adalah 92.23%. Payback period period dari Takoyaking adalah pada akhir tahun ke 2. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa Takoyaking dengan strategy yang disebutkan dalam rencana bisnis ini layak untuk diimplementasi.