digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800








DAFTAR PUSTAKA NADIA AYU SETIYANINGBUDI
EMBARGO  2029-01-09 

LAMPIRAN NADIA AYU SETIYANINGBUDI
EMBARGO  2029-01-09 

Kawasan Konferensi Asia Afrika di Kota Bandung merupakan kawasan warisan budaya perkotaan yang memiliki nilai sejarah global sekaligus menghadapi tekanan sebagai ruang kota yang aktif dan destinasi wisata. Di satu sisi, kawasan ini merepresentasikan memori kolektif pascakolonial dan simbol penting sejarah diplomasi dunia. Di sisi lain, dinamika aktivitas perkotaan, intensitas kunjungan wisata, serta tuntutan pengelolaan ruang publik menimbulkan tantangan dalam menjaga makna sejarah, kualitas pengalaman, dan keberlanjutan kawasan. Dalam konteks tersebut, perencanaan kepariwisataan tidak hanya berperan dalam mengelola aktivitas wisata, tetapi juga dalam memastikan bahwa pariwisata hadir secara selaras dengan pelestarian nilai kawasan dan kehidupan sosial yang berlangsung di dalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh autentisitas fisik, autentisitas eksistensial, dan kualitas destinasi terhadap loyalitas wisatawan di Kawasan Konferensi Asia Afrika, serta merumuskan implikasi pengelolaan pariwisata berkelanjutan yang sensitif terhadap nilai sejarah dan pengalaman ruang kawasan. Berbeda dengan sejumlah penelitian terdahulu yang menekankan keaslian fisik sebagai determinan utama daya tarik kawasan warisan budaya, penelitian ini memfokuskan perhatian pada pengalaman wisatawan dan pemaknaan ruang dalam konteks kawasan warisan budaya perkotaan yang hidup dan dinamis. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif eksplanatori dengan pendekatan survei untuk mengumpulkan data persepsi sebanyak 266 wisatawan dan ekskursionis yang sedang dan pernah berkunjung dalam satu tahun terakhir ke Kawasan Konferensi Asia Afrika. Analisis data dilakukan menggunakan regresi linier berganda untuk menguji pengaruh masing-masing variabel independen terhadap loyalitas wisatawan. Selain itu, penelitian ini juga memanfaatkan jawaban terbuka dari responden sebagai data kualitatif pendukung yang dianalisis secara deskriptif-tematik menggunakan perangkat lunak NVivo. Data kualitatif tersebut digunakan untuk memperkaya interpretasi hasil analisis kuantitatif, tanpa diposisikan sebagai metode analisis utama. Hasil analisis kuantitatif menunjukkan bahwa autentisitas eksistensial dan kualitas destinasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap loyalitas wisatawan, dengan autentisitas eksistensial sebagai variabel yang memiliki pengaruh paling dominan. Sebaliknya, autentisitas fisik tidak menunjukkan pengaruh signifikan secara parsial terhadap loyalitas wisatawan. Temuan ini mengindikasikan bahwa loyalitas wisatawan di kawasan warisan budaya perkotaan lebih banyak dibentuk oleh pengalaman bermakna, keterhubungan emosional, serta kenyamanan dan kualitas pengelolaan kawasan yang dirasakan selama kunjungan, dibandingkan oleh keaslian fisik semata. Temuan kualitatif pendukung menunjukkan bahwa pengalaman autentik wisatawan terbentuk melalui interaksi antara nilai sejarah Konferensi Asia Afrika, suasana kawasan, dinamika sosial, serta kualitas tata kelola ruang publik. Wisatawan memaknai kawasan tidak hanya sebagai lokasi bersejarah, tetapi sebagai ruang hidup yang memungkinkan refleksi, pengalaman emosional, dan interaksi sosial. Di sisi lain, isu amenitas dasar, kebersihan, parkir, dan konsistensi penataan kawasan muncul sebagai faktor yang memengaruhi kenyamanan dan kualitas pengalaman secara keseluruhan. Kebaruan penelitian ini terletak pada penekanan peran autentisitas eksistensial sebagai determinan utama loyalitas wisatawan dalam konteks kawasan warisan budaya perkotaan, serta pada pemaknaan pariwisata sebagai konsekuensi dari pengelolaan kawasan yang baik, bukan sebagai tujuan utama pengembangan. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan kajian perencanaan kepariwisataan berkelanjutan dengan menempatkan pengalaman dan pemaknaan ruang sebagai elemen kunci dalam pengelolaan kawasan warisan budaya. Dalam konteks pengajuan Kawasan Konferensi Asia Afrika sebagai World Heritage, penelitian ini berkontribusi sebagai penguatan dimensi sosial dan pengalaman yang melengkapi aspek teknis pelestarian. Temuan penelitian menegaskan bahwa keberlanjutan kawasan warisan budaya tidak hanya ditentukan oleh keutuhan fisik, tetapi juga oleh kemampuannya untuk tetap bermakna, dihidupi, dan relevan dalam praktik ruang kontemporer.