Aerasi merupakan komponen operasional paling kritis sekaligus paling boros energi
dalam sistem budidaya ikan intensif. Praktik aerasi konvensional yang
mengandalkan kontrol manual atau timer statis sering menyebabkan pemborosan
energi, keterlambatan respons terhadap penurunan oksigen terlarut (dissolved
oxygen/DO), serta meningkatkan risiko hipoksia. Pendekatan akuakultur cerdas
berbasis cloud computing juga menghadapi kendala latensi dan ketergantungan
jaringan, sehingga kurang andal diterapkan pada lokasi dengan infrastruktur
terbatas.
Penelitian ini bertujuan merancang dan mengevaluasi arsitektur sistem aerasi
adaptif berbasis Internet of Things (IoT) dan Edge Computing yang mampu
melakukan pemantauan dan pengendalian kualitas air secara real-time, otonom, dan
efisien energi. Metodologi Design Science Research Methodology (DSRM)
digunakan untuk mengembangkan artefak sistem berbasis Raspberry Pi 5 sebagai
node edge yang mengintegrasikan sensor DO real-time, modul prediksi deret
waktu, dan algoritma kontrol Finite State Machine (FSM) sebagai lapisan
keselamatan utama. Seluruh proses akuisisi data, prediksi, dan pengambilan
keputusan dijalankan secara lokal tanpa ketergantungan koneksi internet.
Beberapa model prediksi DO, yaitu Naive, Exponential Moving Average (EMA),
Holt Linear Trend, ARIMA, dan Random Forest, dievaluasi menggunakan data
lapangan. Implementasi dan pengujian dilakukan pada kolam uji ikan nila di Balai
Riset Pemuliaan Ikan (BRPI) Sukamandi dengan membandingkan mode AUTO
dan MANUAL. Hasil menunjukkan sistem mampu menjaga DO di atas 5 mg/L
sekaligus menurunkan durasi operasi aerator dan konsumsi energi lebih dari 50%.
Penelitian ini menegaskan bahwa efektivitas aerasi adaptif ditentukan oleh
arsitektur IoT–Edge dan logika kontrol FSM yang stabil, bukan semata
kompleksitas model prediksi.
Perpustakaan Digital ITB